PERANCANGAN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH BERPOTENSI DAUR ULANG DI TPA CIANGIR, KOTA TASIKMALAYA, JAWA BARAT
Terbatas Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan
Peningkatan timbulan sampah masih menjadi salah satu permasalahan pengelolaan lingkungan di Kota Tasikmalaya. Timbulan sampah saat ini mencapai sekitar 359,13 ton/hari, dengan sekitar 238,75 ton/hari di antaranya masuk ke TPA Ciangir sebagai fasilitas pemrosesan akhir. Tingkat pengurangan sampah sebesar 16,5% masih berada di bawah target pemerintah sebesar 30%. Hasil sampling menunjukkan bahwa komposisi sampah didominasi oleh sampah makanan sebesar 43,73%, plastik lembaran sebesar 14,26%, serta kertas, karton, dan kardus sebesar 11,17%, yang menunjukkan masih besarnya potensi pemanfaatan dan pemulihan material. Selain itu, dari 68 bank sampah yang tersedia, hanya 64 unit yang masih beroperasi dengan kontribusi pengurangan sekitar 0,15%. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan fasilitas pengolahan sampah yang terintegrasi untuk meningkatkan pengurangan sampah dan mengurangi beban pemrosesan akhir di TPA Ciangir. Perancangan dilakukan untuk periode 2029–2049 dengan mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di kawasan TPA Ciangir. Sistem dirancang untuk mengolah sampah makanan serta sampah berpotensi daur ulang. Sampah berpotensi daur ulang dipilah menjadi material high value yang diarahkan menuju recycle plant dan material low value yang dievaluasi melalui pemilihan alternatif teknologi pengolahan. Berdasarkan metode Simple Additive Weighting (SAW), Refuse Derived Fuel (RDF) terpilih sebagai teknologi pengolahan, sedangkan biodrying terpilih sebagai teknologi pengeringan untuk memenuhi kebutuhan kualitas RDF. Sistem RDF dirancang melalui rangkaian proses pemilahan, pencacahan, biodrying, penyaringan, pencacahan sekunder, dan pemadatan, iii sedangkan recycle plant dirancang untuk memulihkan material seperti kardus, logam, plastik kerasan, karet, kaca, serta material bernilai ekonomi lainnya. Pada akhir periode perencanaan tahun 2049, sampah yang masuk ke TPA Ciangir diproyeksikan sebesar 568,38 ton/hari atau 3.736,60 m³/hari. Fasilitas RDF direncanakan menerima material low value dan sebagian sampah makanan sebagai material pendukung proses biodrying, dengan kapasitas pengolahan sebesar 365,84 ton/hari dan menghasilkan RDF sebesar 254,77 ton/hari. Sementara itu, recycle plant direncanakan mengolah material high value sebesar 62,68 ton/hari. asilitas pengolahan sampah berpotensi daur ulang membutuhkan luas area minimum sebesar 16.256,71 m² atau sekitar 1,63 ha, yang terdiri atas fasilitas pengoalahn sampah berpotensi daur ulang seluas 12.584,35 m² dan fasilitas biodrying seluas 3.672,36 m². Dari aspek finansial, pembangunan fasilitas pengolahan sampah berpotensi daur ulang membutuhkan biaya investasi (Capital Expenditure/CAPEX sebesar Rp34.251.927.632,22 dan biaya operasional (Operational Expenditure/OPEX sebesar Rp13.187.144.052,00/tahun, dengan biaya pembangunan sebesar Rp819.004,48/m² dan biaya pengolahan sebesar Rp82.264,07/ton. Analisis kelayakan finansial dilakukan berdasarkan tiga skenario penerimaan retribusi, yaitu 100%, 75%, dan 50%, dengan asumsi seluruh produk hasil pengolahan terjual. Pada ketiga skenario diperoleh nilai NPV masing-masing sebesar Rp1.555.738.643.182,80; Rp1.442.294.028.203,31; dan Rp1.328.849.413.223,82, BCR sebesar 9,31; 8,70; dan 8,10, serta Payback Period masing-masing selama 7 bulan, 8 bulan, dan 9 bulan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa fasilitas pengolahan sampah berpotensi daur ulang di TPA Ciangir layak secara finansial pada seluruh skenario penerimaan retribusi.
Perpustakaan Digital ITB