Sektor keamanan siber di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat seiring dengan transformasi digital yang berlangsung di berbagai sektor serta meningkatnya adopsi teknologi cloud oleh perusahaan. Meningkatnya jumlah ancaman siber juga mendorong perhatian yang lebih besar terhadap keamanan siber dan kepatuhan terhadap regulasi. Namun, tren yang mendorong pertumbuhan tersebut pada saat yang sama juga menciptakan hambatan struktural bagi perusahaan keamanan siber lokal dalam membangun diferensiasi yang berkelanjutan dan mengembangkan bisnis berbasis pendapatan berulang (recurring revenue). Dalam konteks ini, SQURA Cybersec sebagai Strategic Business Unit (SBU) keamanan siber milik PT Aplikanusa Lintasarta memiliki peluang strategis untuk mempercepat adopsi layanan Managed Security Service Provider (MSSP). Meskipun demikian, perusahaan perlu mengurangi ketergantungannya terhadap proyek keamanan siber yang bersifat transaksional dan hanya menghasilkan pendapatan satu kali. SQURA Cybersec telah memiliki kapabilitas operasional yang kuat, akses terhadap pelanggan enterprise melalui hubungan bisnis yang telah terjalin, infrastruktur Security Operations Center (SOC), serta dukungan kemitraan strategis dalam ekosistemnya. Namun demikian, terlepas dari berbagai keunggulan tersebut, SQURA masih menghadapi sejumlah tantangan.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi adopsi MSSP di SQURA Cybersec serta merumuskan rekomendasi strategis untuk meningkatkan strategi Go-To-Market (GTM) keamanan siber perusahaan. Secara lebih spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara proposisi nilai MSSP yang ditawarkan SQURA dengan kriteria pembelian pelanggan enterprise, mengevaluasi kondisi struktural yang menghambat adopsi MSSP di pasar keamanan siber Indonesia, serta merumuskan alternatif strategi bisnis yang dapat mendukung transformasi SQURA dari perusahaan keamanan siber yang berorientasi pada transaksi menjadi penyedia layanan MSSP berbasis langganan yang berkelanjutan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan para pemangku kepentingan internal dan eksternal yang terlibat secara langsung dalam ekosistem keamanan siber SQURA. Responden internal terdiri atas Chief Cybersecurity Officer (CCSO), perwakilan tim Go-To-Market (GTM) yang bertanggung jawab terhadap penjualan solusi keamanan siber SQURA, serta Account Manager yang mengelola hubungan pelanggan dan aktivitas penjualan. Sementara itu, responden eksternal terdiri atas pelanggan enterprise dan perwakilan principal dari industri teknologi keamanan siber. Data sekunder diperoleh melalui dokumen perusahaan, laporan industri keamanan siber, jurnal akademik, materi presentasi strategis, serta berbagai catatan operasional yang berkaitan dengan aktivitas GTM SQURA. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik Thematic Coding dan selanjutnya dievaluasi melalui penerapan berbagai kerangka manajemen strategis, yaitu Analisis PESTEL, Porter’s Five Forces, Analisis VRIO, Analisis SWOT, Matriks TOWS, Segmentation–Targeting–Positioning (STP), serta model bauran pemasaran 7P.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat empat strategi terintegrasi yang direkomendasikan bagi SQURA. Pertama, SQURA perlu membangun kemampuan untuk memberikan visibilitas menyeluruh kepada pelanggan terhadap seluruh aktivitas operasional layanan keamanan siber melalui pengembangan SQURA Orchestrated Platform. Platform ini berfungsi sebagai pusat visibilitas terpadu atas seluruh aktivitas operasional keamanan siber yang dikelola oleh SQURA. Kedua, SQURA perlu mentransformasikan model komersialnya dari pendekatan yang berorientasi pada transaksi menjadi pendekatan berbasis komitmen hasil (outcome-based commitments), yang berfokus pada empat nilai utama bagi pelanggan, yaitu Resilience, Compliance Readiness, Business Continuity, dan Cybersecurity Foresight. Ketiga, SQURA perlu mengembangkan kapabilitas keamanan siber lokal melalui pengembangan produk operasional keamanan siber yang dikontekstualisasikan dengan kebutuhan dan regulasi Indonesia guna mengurangi ketergantungan terhadap principal global sebagai penyedia teknologi. Keempat, SQURA perlu membangun integrated operating model yang memungkinkan adanya standardisasi proses tata kelola, koordinasi alur kerja antar fungsi, pengembangan proposal yang lebih terstruktur, serta konsistensi dalam penyampaian layanan di seluruh fungsi yang berinteraksi dengan pelanggan.
Apabila keempat arah strategis tersebut dapat diimplementasikan secara efektif, SQURA diharapkan mampu bertransformasi dari penyedia layanan keamanan siber yang didominasi oleh model bisnis transaksional menjadi penyedia layanan berbasis langganan dengan keberlanjutan pendapatan yang lebih baik. Pada akhirnya, strategi yang direkomendasikan dalam penelitian ini diharapkan dapat memperkuat posisi kompetitif SQURA di tengah pertumbuhan pasar keamanan siber Indonesia, meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap SQURA, memperluas skala operasional perusahaan, serta mendukung pencapaian tujuan strategis perusahaan di masa depan.
Perpustakaan Digital ITB