digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSRAK Mahmudatul Khoirot
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Bio-oil hasil pirolisis biomassa merupakan sumber platform chemicals terbarukan yang mengandung berbagai senyawa bernilai tinggi, terutama senyawa fenolik. Namun, bio-oil memiliki komposisi yang sangat kompleks sehingga diperlukan proses fraksionasi untuk meningkatkan selektivitas dan perolehan senyawa target. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi distribusi produk pirolisis tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan komposisi kimia bio-oil, menganalisis pengaruh jenis pelarut serta rasio pelarut terhadap bio-oil pada proses ekstraksi cair-cair (liquid-liquid extraction), mengevaluasi efek sinergistik sistem pelarut biner berdasarkan indeks sinergis, serta menentukan sistem pelarut terbaik untuk pemulihan senyawa fenolik. Penelitian diawali dengan pirolisis TKKS untuk menghasilkan bio-oil, kemudian dilakukan ekstraksi menggunakan pelarut tunggal (n-heksana, etil asetat, dan kloroform) serta pelarut biner (etil asetat–heksana, etil asetat–kloroform, dan heksana–kloroform) pada variasi rasio pelarut terhadap bio-oil sebesar 0,25:1; 0,5:1; 0,75:1; dan 1:1. Karakterisasi komposisi kimia bio-oil dan ekstrak dilakukan menggunakan Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bio-oil mengandung berbagai kelompok senyawa, seperti fenolik, hidrokarbon, keton, ester, oksigenat, senyawa nitrogen, dan asam organik. Kloroform merupakan pelarut tunggal dengan selektivitas tertinggi terhadap senyawa fenolik, sedangkan kombinasi heksana–kloroform menghasilkan konsentrasi relatif fenolik, indeks sinergis, dan faktor pengayaan tertinggi dibandingkan sistem pelarut lainnya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kombinasi heksana–kloroform merupakan sistem pelarut yang paling efektif untuk memperkaya senyawa fenolik dari bio-oil hasil pirolisis TKKS.