Polusi udara menjadi salah satu isu lingkungan dan kesehatan yang paling serius di berbagai sektor industri di seluruh dunia, termasuk industri besi skala kecil yaitu pandai besi di Indonesia. PM sangat terkait dengan risiko kesehatan, maka penting untuk memahami kompleksitas pajanannya. Untuk meminimalkan risiko kesehatan pekerja akibat pajanan PM, dibutuhkan langkah untuk mengidentifikasi secara cepat tingkat risiko pajanan PM terhadap kesehatan pekerja melalui pendekatan Human Health Risk Assessment (HHRA).Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian risiko kesehatan akibat pajanan PM khususnya Ultrafine Particle (UFP)/ PM0,1 dan PM<0,5 pada pekerja pandai besi informal di Indonesia melalui pendekatan terintegrasi yang mencakup empat tahap HHRA yaitu identifikasi isu dan bahaya, analisis dosis respon, analisis pajanan, karakterisasi risiko dan dilanjutkan validasi tingkat risiko dan formulasi manajemen risiko.
Identifikasi isu dan bahaya dilakukan dengan karakterisasi size-segregated dan komposisi kimia PM di lingkungan kerja pandai besi. Pengukuran konsentrasi PM secara real time dengan sensor kualitas udara, sedangkan pengambilan sampel udara indoor dan outdoor dengan alat Ambient Nano Sampler. Analisis komposisi kimia terdiri dari analisis unsur, ion anorganik dan karbon. Analisis dosis respon dilakukan pemilihan nilai RfC dan IUR unsur dalam PM serta model dosis respon. Analisis pajanan dilakukan dengan pengambilan sampel PM personal dengan alat Personal Nano Sampler, pengukuran konsentrasi PM secara real time dengan sensor kualitas udara dan analisis unsur dalam PM dengan Energy Dispersive X-Ray Fluorescence (EDXRF). Validasi tingkat risiko meliputi analisis biomarker pajanan yaitu Si urin, As urin dan Fe darah dan biomarker efek yaitu 8-OHdG darah baik pada pekerja maupun kontrol. Analisis urin dilakukan dengan alat ICP-MS dan darah dengan LC-MS/MS.
Hasil penelitian menunjukkan aktivitas pengelasan sebagai sumber utama PM di lingkungan kerja, dengan konsentrasi PM2,5 tertinggi mencapai 7849 µg/m³. Rasio PM0,1/PM2,5 rata-rata di seluruh bengkel (0,26-0,42) jauh lebih tinggi dibandingkan udara ambien (0,08), dan konsentrasi PM0,1 tercatat 51–255 kali lipat di atas konsentrasi udara ambien. Komposisi kimia PM didominasi oleh unsur logam (Fe, K, Si), ion anorganik (Ca2+, SO42-, K+), serta karbon dengan total karbon tertinggi mencapai 161,046 µg/m³. Pajanan personal menunjukkan konsentrasi PM<0,5 rata-rata pekerja (2.669,91 µg/m³) jauh lebih dominan dibandingkan PM0,5–1 (618,42 µg/m³), menandakan fraksi ukuran terkecil sebagai pajanan utama yang lebih berisiko karena dapat menembus saluran pernapasan bagian dalam dan masuk ke peredaran darah. Karakterisasi risiko menemukan 29 pekerja memiliki HI > 1 (risiko non-karsinogenik) dan 11 pekerja memiliki ILCR > 1 × 10-4 (risiko karsinogenik). Validasi awal biomarker menemukan korelasi positif antara seluruh biomarker pajanan dan biomarker efek, dengan korelasi signifikan diperoleh antara Si urin dan 8-OHdG darah (r = 0,36; p = 0,024). Si urin juga berkorelasi positif signifikan dengan EC PM<0,5 (r = 0,38; p = 0,023) dan kandungan Si dalam PM<0,5 (r = 0,41; p = 0,004), menegaskan bahwa Si urin merepresentasikan pajanan Si yang berasal dari lingkungan kerja.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan pajanan personal berbasis karakterisasi size-segregated PM dari coarse particle (PM10) sampai ultrafine particle (PM0,1) yang dipadukan dengan validasi awal biomarker pajanan dan biomarker efek, serta usulan Si urin sebagai kandidat biomarker pajanan internal yang relevan untuk validasi awal tingkat risiko kesehatan akibat pajanan PM. Manajemen risiko diformulasikan melalui penetapan konsentrasi, frekuensi dan durasi pajanan aman. Cara manajemen risiko meliputi pendekatan teknologi ( penerapan cross ventilation dan exhaust fan pada sumber emisi, kewajiban masker dan respirator), pendekatan sosial-ekonomis (diskusi berkala dengan pekerja terkait pengaturan jam kerja dan rotasi kerja), dan pendekatan institusional (kerjasama lintas lembaga, mencakup layanan kesehatan, instansi pemerintah, dan mitra akademik). Hasil penelitian berkontribusi pada pengembangan kerangka penilaian risiko kesehatan terintegrasi yang dapat diadopsi untuk sektor industri informal sejenis di Indonesia, sekaligus memperkaya khazanah ilmu pengetahuan mengenai biomarker pajanan PM khususnya PM<0,5 pada lingkungan kerja informal yang masih jarang dikaji secara komprehensif.
Perpustakaan Digital ITB