digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT Delta Mining Services, kontraktor tambang yang mengoperasikan ekskavator milik klien, mengalami penurunan ketersediaan alat berat yang drastis pada periode Agustus–Oktober 2025. Tiga unit utama (EX2001, EX2002, dan EX2003) gagal memenuhi target operasional Physical Availability (PA) 85%, di mana EX2001 dan EX2002 bahkan hanya menyentuh angka 11% pada bulan Oktober. Kondisi ini tidak hanya mencerminkan degradasi teknis, tetapi juga ambiguitas batas tanggung jawab pemeliharaan utama akibat kontrak awal yang tidak memiliki ketentuan mengikat terkait eksekusi overhaul. Penelitian ini menggunakan pendekatan sequential explanatory mixed-methods—menggabungkan data operasional kuantitatif dengan analisis kualitatif melalui wawancara dan 5 Whys—untuk menilai performa, mengidentifikasi akar masalah, dan mengusulkan kerangka kerja tata kelola yang baru. Temuan kuantitatif menunjukkan bahwa total downtime armada mencapai 3.265 jam, sementara masalah pemeliharaan menyumbang 70,3% dari total lost time pada Agustus– September 2025. Secara komersial, degradasi ini memicu defisit produksi kumulatif sebesar 688.689 Bank Cubic Meters (BCM) dengan estimasi kehilangan potensi pendapatan mencapai USD 1,00 juta (Rp16,57 miliar). Analisis kualitatif mengidentifikasi ketiadaan ketentuan kontraktual yang mengikat terkait pelaksanaan General Overhaul (GOH) sebagai akar masalah utama, yang mengakibatkan keterlambatan GOH yang berulang. Meskipun pemilik aset menanggung biaya pemeliharaan, kesepakatan awal tidak menetapkan pemicu spesifik untuk overhaul, parameter performa yang harus dijaga, maupun konsekuensi atas keterlambatan. Sebagai respons, penelitian ini mengusulkan kerangka kerja konseptual Hybrid SLA-TPM —yang memadukan Total Productive Maintenance (TPM) dengan Service Level Agreement (SLA)—yang menerjemahkan kebutuhan TPM, khususnya pilar Planned Maintenance dan Office TPM, ke dalam klausul SLA yang mengikat berdasarkan prinsip Performance-Based Contracting (PBC). Kerangka ini melengkapi struktur kontrak dengan pemicu overhaul spesifik unit, kewajiban pemenuhan PA ? 85%, batas waktu persetujuan dan eskalasi, serta konsekuensi kinerja dua arah. PT Delta Mining Services dan pemilik aset direkomendasikan untuk mengadopsi kerangka ini secara penuh ke dalam Mining Service Agreement guna memperkuat akuntabilitas, mengurangi ambiguitas, dan memastikan keandalan manajemen aset klien. Kata kunci: Ketersediaan Alat Berat, Total Productive Maintenance, Service Level Agreement, Kontrak Berbasis Kinerja, General Overhaul, Kontraktor Tambang.