Perkembangan penelitian mengenai astrotourism selama ini didominasi oleh
perspektif yang mengaitkan astrotourism dengan dark-sky tourism atau
memposisikannya sebagai bentuk pengembangan destinasi wisata berbasis langit
malam. Perspektif tersebut menempatkan destinasi sebagai unit analisis utama
sehingga perhatian terhadap organisasi-organisasi yang berperan dalam
membangun, mengelola, dan mengembangkan ekosistem astrotourism masih relatif
terbatas. Padahal, dalam konteks Indonesia yang belum memiliki destinasi dark-
sky berskala internasional, perkembangan astrotourism justru banyak digerakkan
oleh berbagai organisasi dengan karakteristik, sumber daya, dan fungsi yang
beragam. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan yang memandang
astrotourism sebagai suatu ekosistem yang terbentuk melalui interaksi berbagai
aktor. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik
manajemen yang dijalankan oleh berbagai organisasi astrotourism di Indonesia
sesuai dengan peran masing-masing, kemudian mengidentifikasi wawasan
pengembangan ekosistem astrotourism yang dihasilkan dari hubungan antar peran
organisasi tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multiple-case
study terhadap empat organisasi astrotourism di Indonesia yang
merepresentasikan karakteristik organisasi pemerintah, komunitas, organisasi
nirlaba, dan institusi pendidikan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara
semi-terstruktur, observasi, dan analisis dokumen. Seluruh data dianalisis
menggunakan thematic analysis pada masing-masing kasus (within-case analysis)
yang kemudian dilanjutkan dengan cross-case analysis untuk mengidentifikasi
pola, persamaan, dan perbedaan antarorganisasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap organisasi mengembangkan
pendekatan manajerial yang berbeda sesuai dengan visi organisasi, kapasitas
sumber daya, struktur kelembagaan, serta kelompok sasaran yang dilayani.
Perbedaan tersebut tercermin dalam strategi tata kelola organisasi, pengelolaan
sumber daya, pengembangan program, pengelolaan pemangku kepentingan, serta
mekanisme penyampaian pengalaman astronomi kepada masyarakat. Meskipun
demikian, seluruh organisasi memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan literasi astronomi, memperluas akses masyarakat terhadap pengalaman astronomi,
serta membangun apresiasi terhadap langit malam melalui pendekatan yang saling
melengkapi. Analisis lintas kasus menunjukkan bahwa organisasi-organisasi
tersebut tidak bekerja secara terpisah, mereka serentak membentuk fungsi-fungsi
yang saling mendukung dalam pengembangan astrotourism di Indonesia, mulai
dari produksi pengetahuan, pendidikan publik, pemberdayaan komunitas, hingga
penyediaan pengalaman astronomi bagi berbagai segmen masyarakat.
Penelitian ini menawarkan perspektif konseptual bahwa astrotourism tidak
seharusnya dipahami hanya sebagai bentuk dark-sky tourism maupun sebagai
pengembangan destinasi wisata, tetapi sebagai suatu ekosistem organisasi yang
terdiri atas berbagai aktor dengan peran yang berbeda namun saling bergantung.
Perspektif tersebut memperluas konseptualisasi astrotourism dengan
menempatkan organisasi sebagai elemen utama dalam proses pembentukan dan
perkembangan ekosistem astrotourism. Secara praktis, hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengembangan astrotourism di Indonesia tidak harus diawali
dengan pembentukan destinasi dark-sky berskala besar, tetapi dapat dilakukan
secara bertahap melalui penguatan organisasi-organisasi yang telah berperan
aktif dalam mempopulerkan astronomi, memperluas kolaborasi antarpemangku
kepentingan, serta membangun ekosistem yang mampu mendukung perkembangan
astrotourism secara berkelanjutan.
Keywords: Astrowisata Tata Kelola Pemangku Kepentingan, Tantangan
Institusional, Manajemen Organisasi, Ekosistem Pariwisata, Kolaborasi Multi-
pemangku Kepentingan
Perpustakaan Digital ITB