digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan penelitian mengenai astrotourism selama ini didominasi oleh perspektif yang mengaitkan astrotourism dengan dark-sky tourism atau memposisikannya sebagai bentuk pengembangan destinasi wisata berbasis langit malam. Perspektif tersebut menempatkan destinasi sebagai unit analisis utama sehingga perhatian terhadap organisasi-organisasi yang berperan dalam membangun, mengelola, dan mengembangkan ekosistem astrotourism masih relatif terbatas. Padahal, dalam konteks Indonesia yang belum memiliki destinasi dark- sky berskala internasional, perkembangan astrotourism justru banyak digerakkan oleh berbagai organisasi dengan karakteristik, sumber daya, dan fungsi yang beragam. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan yang memandang astrotourism sebagai suatu ekosistem yang terbentuk melalui interaksi berbagai aktor. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik manajemen yang dijalankan oleh berbagai organisasi astrotourism di Indonesia sesuai dengan peran masing-masing, kemudian mengidentifikasi wawasan pengembangan ekosistem astrotourism yang dihasilkan dari hubungan antar peran organisasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multiple-case study terhadap empat organisasi astrotourism di Indonesia yang merepresentasikan karakteristik organisasi pemerintah, komunitas, organisasi nirlaba, dan institusi pendidikan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan analisis dokumen. Seluruh data dianalisis menggunakan thematic analysis pada masing-masing kasus (within-case analysis) yang kemudian dilanjutkan dengan cross-case analysis untuk mengidentifikasi pola, persamaan, dan perbedaan antarorganisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap organisasi mengembangkan pendekatan manajerial yang berbeda sesuai dengan visi organisasi, kapasitas sumber daya, struktur kelembagaan, serta kelompok sasaran yang dilayani. Perbedaan tersebut tercermin dalam strategi tata kelola organisasi, pengelolaan sumber daya, pengembangan program, pengelolaan pemangku kepentingan, serta mekanisme penyampaian pengalaman astronomi kepada masyarakat. Meskipun demikian, seluruh organisasi memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan literasi astronomi, memperluas akses masyarakat terhadap pengalaman astronomi, serta membangun apresiasi terhadap langit malam melalui pendekatan yang saling melengkapi. Analisis lintas kasus menunjukkan bahwa organisasi-organisasi tersebut tidak bekerja secara terpisah, mereka serentak membentuk fungsi-fungsi yang saling mendukung dalam pengembangan astrotourism di Indonesia, mulai dari produksi pengetahuan, pendidikan publik, pemberdayaan komunitas, hingga penyediaan pengalaman astronomi bagi berbagai segmen masyarakat. Penelitian ini menawarkan perspektif konseptual bahwa astrotourism tidak seharusnya dipahami hanya sebagai bentuk dark-sky tourism maupun sebagai pengembangan destinasi wisata, tetapi sebagai suatu ekosistem organisasi yang terdiri atas berbagai aktor dengan peran yang berbeda namun saling bergantung. Perspektif tersebut memperluas konseptualisasi astrotourism dengan menempatkan organisasi sebagai elemen utama dalam proses pembentukan dan perkembangan ekosistem astrotourism. Secara praktis, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan astrotourism di Indonesia tidak harus diawali dengan pembentukan destinasi dark-sky berskala besar, tetapi dapat dilakukan secara bertahap melalui penguatan organisasi-organisasi yang telah berperan aktif dalam mempopulerkan astronomi, memperluas kolaborasi antarpemangku kepentingan, serta membangun ekosistem yang mampu mendukung perkembangan astrotourism secara berkelanjutan. Keywords: Astrowisata Tata Kelola Pemangku Kepentingan, Tantangan Institusional, Manajemen Organisasi, Ekosistem Pariwisata, Kolaborasi Multi- pemangku Kepentingan