Kabupaten Rembang adalah sebuah wilayah semi-perkotaan di Jawa Tengah yang menghadapi
kesenjangan signifikan antara permintaan dan ketersediaan layanan terpadu yang mencakup pengasuhan
anak, terapi, dan konsultasi psikologis. Hanya terdapat satu psikolog klinis berizin dan tidak ada klinik
swasta terpadu yang melayani sekitar 19.000–20.000 anak yang belum terlayani dengan memadai.
Penelitian ini menganalisis kelayakan pasar dan keuangan untuk pendirian cabang baru Perusahaan XYZ,
sebuah penyedia layanan terpadu tumbuh kembang anak, di Kabupaten Rembang.
Dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif yang menggabungkan survei terhadap 123 responden
dan data sekunder, kelayakan pasar dinilai melalui kerangka kerja TAM-SAM-SOM, analisis
SWOT-TOWS, dan Porter's Five Forces. Sementara itu, kelayakan keuangan dievaluasi melalui proyeksi
proforma dengan tiga skenario penetapan harga, serta perhitungan WACC, FCFF, dan metrik
penganggaran modal (NPV, IRR, PI), yang didukung oleh analisis titik impas dan analisis sensitivitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Rembang merupakan pasar yang menarik dengan potensi
besar namun belum terlayani dengan baik, serta menawarkan keuntungan sebagai pelopor (first-mover
advantage), meskipun kelayakannya sangat bergantung pada penetapan harga. Skenario median-WTP
(Rp75.000/sesi) dinyatakan tidak layak (NPV –Rp188.955.735), sedangkan skenario average-WTP
(Rp90.152/sesi) dinyatakan layak (NPV Rp701.316.840; IRR 39%). Variabel permintaan diidentifikasi
sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai NPV. Studi ini menyimpulkan bahwa pendirian
cabang baru tersebut layak dilakukan dengan syarat tarif ditetapkan pada atau di atas nilai rata-rata
kesediaan membayar dan upaya peningkatan permintaan diprioritaskan sebagai strategi utama mitigasi
risiko.
Keywords: Studi kelayakan bisnis, klinik terapi anak, NPV, WACC, kesediaan untuk membayar,
Kabupaten Rembang
Perpustakaan Digital ITB