digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kabupaten Rembang adalah sebuah wilayah semi-perkotaan di Jawa Tengah yang menghadapi kesenjangan signifikan antara permintaan dan ketersediaan layanan terpadu yang mencakup pengasuhan anak, terapi, dan konsultasi psikologis. Hanya terdapat satu psikolog klinis berizin dan tidak ada klinik swasta terpadu yang melayani sekitar 19.000–20.000 anak yang belum terlayani dengan memadai. Penelitian ini menganalisis kelayakan pasar dan keuangan untuk pendirian cabang baru Perusahaan XYZ, sebuah penyedia layanan terpadu tumbuh kembang anak, di Kabupaten Rembang. Dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif yang menggabungkan survei terhadap 123 responden dan data sekunder, kelayakan pasar dinilai melalui kerangka kerja TAM-SAM-SOM, analisis SWOT-TOWS, dan Porter's Five Forces. Sementara itu, kelayakan keuangan dievaluasi melalui proyeksi proforma dengan tiga skenario penetapan harga, serta perhitungan WACC, FCFF, dan metrik penganggaran modal (NPV, IRR, PI), yang didukung oleh analisis titik impas dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Rembang merupakan pasar yang menarik dengan potensi besar namun belum terlayani dengan baik, serta menawarkan keuntungan sebagai pelopor (first-mover advantage), meskipun kelayakannya sangat bergantung pada penetapan harga. Skenario median-WTP (Rp75.000/sesi) dinyatakan tidak layak (NPV –Rp188.955.735), sedangkan skenario average-WTP (Rp90.152/sesi) dinyatakan layak (NPV Rp701.316.840; IRR 39%). Variabel permintaan diidentifikasi sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai NPV. Studi ini menyimpulkan bahwa pendirian cabang baru tersebut layak dilakukan dengan syarat tarif ditetapkan pada atau di atas nilai rata-rata kesediaan membayar dan upaya peningkatan permintaan diprioritaskan sebagai strategi utama mitigasi risiko. Keywords: Studi kelayakan bisnis, klinik terapi anak, NPV, WACC, kesediaan untuk membayar, Kabupaten Rembang