Perubahan iklim global berdampak pada ketidakstabilan pola curah hujan yang
secara langsung memengaruhi produktivitas ubi Cilembu (Ipomoea batatas),
komoditas hortikultura lokal unggulan Kabupaten Sumedang. Curah hujan
berpengaruh nyata terhadap produktivitas ubi jalar, sementara perubahan pola curah
hujan dapat mengurangi produktivitas tanaman umbi yang sangat sensitif terhadap
kekeringan dan suhu tinggi. Pada musim kemarau, keterbatasan ketersediaan air
menyebabkan peningkatan stres air pada tanaman sebagai konsekuensi utama
degradasi tanah dan berkurangnya ketersediaan nutrisi, sementara musim
penghujan berpotensi menimbulkan genangan dan penyakit busuk akar. Kondisi ini
menunjukkan perlunya sistem pengendalian parameter fisis lingkungan yang presisi
dan adaptif. Penelitian ini mengembangkan sistem pertanian presisi yang
mengintegrasikan pemantauan lingkungan dan tanah secara waktu nyata, sistem
irigasi tetes dan optimasi fertigasi berbasis IoT untuk budidaya ubi Cilembu di
lahan terbuka. Parameter yang dipantau mencakup parameter tak terkendali (suhu
udara, kelembapan udara, intensitas cahaya) dan parameter terkendali (kelembapan
tanah, kandungan NPK, volume air irigasi, dan dosis pupuk), menggunakan sensor
berdaya rendah bertenaga panel surya dengan transmisi data nirkabel jarak jauh ke
server. Sistem irigasi tetes berbasis IoT menggunakan pendekatan daya serap tanah
sebagai alternatif metode evapotranspirasi, terbukti menghemat penggunaan air
hingga 65% dan meningkatkan produktivitas 45% dibandingkan metode sprinkler
konvensional. Dari empat variasi dosis fertigasi (3, 6, 9, 12 g/bibit) dan dua
frekuensi aplikasi, kombinasi dosis 6 g/bibit dengan frekuensi dua mingguan
menghasilkan produktivitas tertinggi dengan efisiensi pupuk meningkat lebih dari
50% dibandingkan metode konvensional. Sistem yang dibangun terbukti mampu
merepresentasikan dinamika sistem pertanian ubi Cilembu secara adaptif sebagai
dasar pengambilan keputusan pengelolaan budidaya berbasis data.
Perpustakaan Digital ITB