digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Firsa Athaya Raissa Alifah
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Proyek proteksi petir berbasis standar IEC 62305 menghasilkan belasan artefak dokumen lintas enam fase lifecycle, mulai dari laporan assessment risiko hingga laporan inspeksi berkala yang harus diarsipkan sepanjang umur sistem. Namun, praktik pengelolaan dokumen saat ini masih mengandalkan alat yang tidak terintegrasi, sehingga menimbulkan fragmentasi dokumen, ketiadaan kendali versi, terputusnya keterkaitan antarfase, dan kesulitan memverifikasi kepatuhan IEC 62305-3. Penelitian ini mengembangkan prototipe Sistem Informasi Manajemen Dokumen Proyek Proteksi Petir berbasis web menggunakan kerangka Design Science Research Methodology (DSRM) dengan model Waterfall. Sistem yang dikembangkan memodelkan enam fase lifecycle proyek beserta empat belas jenis dokumen baku, menerapkan penomoran dokumen otomatis, pengendalian versi, alur persetujuan berjenjang, dan keterlacakan antardokumen lintas fase yang terukur, menyediakan pencarian isi dokumen, serta mengatur akses berbasis peran untuk lima peran pengguna dan empat tingkat visibilitas dokumen. Sistem diimplementasikan sebagai aplikasi web berlapis menggunakan Next. js, React, TypeScript, dan PostgreSQL melalui Prisma, lalu disebarkan ke lingkungan terhosting. Verifikasi internal mencakup pengujian statis, fungsional black box, isolasi peran, integritas data, dan performa bertingkat. Evaluasi artefak mengikuti Framework for Evaluation in Design Science (FEDS) dengan strategi Human Risk and Effectiveness, mencakup tinjauan pakar dan evaluasi pengguna berbasis tugas yang mengukur efektivitas, efisiensi, dan kepuasan menggunakan System Usability Scale. Verifikasi internal menyatakan seluruh dua belas kebutuhan fungsional dan delapan kebutuhan nonfungsional terpenuhi. Evaluasi bersama enam praktisi menghasilkan 45 pelaksanaan tugas yang seluruhnya selesai tanpa kegagalan, dengan skor kegunaan sistem sebesar 80,0 dari 100. Cakupan keterlacakan dokumen mencapai 70 persen dan tingkat keterkaitan antarfase mencapai 40 persen, keduanya di bawah target yang ditetapkan? analisis menunjukkan selisih tersebut berasal dari definisi metrik yang hanya mengakui keterkaitan antarfase yang bersebelahan, bukan dari kegagalan sistem mencatat keterkaitan antardokumen. Hasil ini menunjukkan bahwa prototipe yang dikembangkan memenuhi kebutuhan yang ditetapkan dan mendukung pengelolaan dokumen yang lebih terlacak dibandingkan praktik saat ini, sekaligus mengidentifikasi arah penyempurnaan lanjutan pada metrik keterlacakan.