digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Melinjo (Gnetum gnemon L.) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh hampir di seluruh provinsi di Indonesia yang diketahui mengandung senyawa golongan stillbenoid di antaranya resveratrol sebagai antioksidan. Resveratrol diketahui mempunyai mekanisme kerja mengaktivasi ekspresi protein sirtuin1 SIRT1 secara langsung, dimana SIRT1 merupakan salah satu protein yang berperan mengendalikan proses penuaan/aging. Aging merupakan proses menghilangnya kemampuan jaringan secara perlahan untuk mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, yang terjadi pada seluruh organ tubuh dan merupakan faktor risiko morbiditas terkait age-related disease khususnya penyakit degeneratif, dan berpotensi meningkatkan risiko kematian. Potensi luar biasa resveratrol sebagai antiaging dihadapkan dengan rendahnya kelarutan sehingga menurunkan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi ekstrak sklerotesta melinjo sebagai agen antiaging melalui pendekatan nanoteknologi. Sklerotesta biji melinjo yang merupakan limbah diolah menggunakan metode ball milling untuk menghasilkan partikel berskala nanometer untuk meningkatkan kelarutan dan ketersediaan hayati resveratrol yang terkandung di dalamnya. Proses nanonisasi ekstrak kering sklerotesta biji melinjo dilakukan secara topdown dengan teknik ball milling kemudian dikarakterisasi sifat fisiko kimianya, dilakukan identifikasi dan penetapan kadar resveratrol menggunakan High Performance Liquid Chromatography untuk memastikan bioaktif dalam nanoekstrak tetap mempunyai daya antiaging. Proses ini meningkatkan kelarutan dan efektivitas farmasetikanya, sehingga menjadikannya alternatif bahan baku farmasetika yang bernilai ekonomi serta ramah lingkungan. Karakterisasi fisiko kimia menunjukkan bahwa nanoekstrak sklerotesta biji melinjo memiliki kelarutan yang lebih baik serta stabilitas yang baik terhadap peningkatan temperatur. Uji in vitro dilakukan pada human dermal fibroblast cell CRL2522 yang diinduksi proses penuaannya menggunakan H2O2. Beberapa parameter yang diamati diantaranya adalah ekspresi SIRT1dan BCL2 yang memperkuat mekanisme terkait antiaging. SIRT1 merupakan protein yang dapat diaktifasi oleh resveratrol sehingga bekerja sebagai antiaging, sedangkan BCL2 merupakan suatu gen anti apoptosis yang dapat mempertahankan keberlangsungan hidup sel. Uji in vivo yang dilakukan bertahap diawali uji aktivitas antiaging menggunakan tikus putih (Rattus novergicus) galur Wistar dilakukan dengan pemberian nanoekstrak secara oral kemudian dilakukan evaluasi makroskopis dan pengukuran kadar SIRT1. Kemudian untuk mengetahui keamanan nanoekstrak dan profil farmakokinetik dilakukan uji toksisitas akut dan uji farmakokinetik untuk mengetahui profil farmakokinetik nanoekstrak. Uji in vitro pada Human Dermal Fibroblast Cell line (CRL2522) mengungkapkan bahwa nanoekstrak ini memiliki aktivitas antiaging. Mekanisme antiaging dikonfirmasi melalui peningkatan ekspresi SIRT1, yang berperan dalam perbaikan sel, serta BCL2, gen yang menghambat apoptosis. Hasil ini menunjukkan bahwa nanoekstrak mampu memodulasi jalur molekuler yang terkait dengan regenerasi dan perlindungan sel kulit. Pengujian in vivo pada tikus Wistar yang terpapar sinar UVB menunjukkan bahwa pemberian oral nanoekstrak sklerotesta melinjo mampu mengurangi dampak penuaan dengan meminimalisasi munculnya kerutan pada kulit dorsal. Hasil ini mendukung potensinya sebagai agen antiaging oral yang efektif. Pada uji toksisitas akut mengindikasikan bahwa nanoekstrak ini aman untuk konsumsi oral tanpa menunjukkan efek toksik yang signifikan. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil mentransformasikan limbah sklerotesta melinjo menjadi produk nanoekstrak dengan aktivitas antiaging yang terbukti melalui pendekatan in vitro dan in vivo. Keamanan serta efektivitas yang ditunjukkan oleh nanoekstrak ini memperkuat potensinya sebagai kandidat agen antiaging oral yang inovatif dan berkelanjutan. Sebagai penelitian yang mengkaji potensi antiaging dari nanoekstrak sklerotesta biji melinjo, hasil ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan suplemen alami berbasis bahan alam lokal untuk pencegahan aging dan penyakit degeneratif terkait usia. Pengembangan suplemen berbasis nanoekstrak ini dapat memberikan alternatif terapi non-invasif. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengayaan khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam pengembangan bahan alam Indonesia yang bernilai tinggi dalam bidang kesehatan dan farmasi. Penelitian ini juga merekomendasikan penelitian lanjutan untuk mengoptimalkan formulasi nanoekstrak dan mengkaji efektivitas jangka panjangnya pada model hewan serta uji klinis pada manusia. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan produk berbasis nanoekstrak sklerotesta melinjo di masa depan.