Melinjo (Gnetum gnemon L.) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh hampir
di seluruh provinsi di Indonesia yang diketahui mengandung senyawa golongan
stillbenoid di antaranya resveratrol sebagai antioksidan. Resveratrol diketahui
mempunyai mekanisme kerja mengaktivasi ekspresi protein sirtuin1 SIRT1 secara
langsung, dimana SIRT1 merupakan salah satu protein yang berperan
mengendalikan proses penuaan/aging. Aging merupakan proses menghilangnya
kemampuan jaringan secara perlahan untuk mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya, yang terjadi pada seluruh organ tubuh dan merupakan faktor risiko
morbiditas terkait age-related disease khususnya penyakit degeneratif, dan
berpotensi meningkatkan risiko kematian. Potensi luar biasa resveratrol sebagai
antiaging dihadapkan dengan rendahnya kelarutan sehingga menurunkan
efektivitasnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi ekstrak sklerotesta melinjo
sebagai agen antiaging melalui pendekatan nanoteknologi. Sklerotesta biji melinjo
yang merupakan limbah diolah menggunakan metode ball milling untuk
menghasilkan partikel berskala nanometer untuk meningkatkan kelarutan dan
ketersediaan hayati resveratrol yang terkandung di dalamnya. Proses nanonisasi
ekstrak kering sklerotesta biji melinjo dilakukan secara topdown dengan teknik ball
milling kemudian dikarakterisasi sifat fisiko kimianya, dilakukan identifikasi dan
penetapan kadar resveratrol menggunakan High Performance Liquid
Chromatography untuk memastikan bioaktif dalam nanoekstrak tetap mempunyai
daya antiaging. Proses ini meningkatkan kelarutan dan efektivitas farmasetikanya,
sehingga menjadikannya alternatif bahan baku farmasetika yang bernilai ekonomi
serta ramah lingkungan. Karakterisasi fisiko kimia menunjukkan bahwa
nanoekstrak sklerotesta biji melinjo memiliki kelarutan yang lebih baik serta
stabilitas yang baik terhadap peningkatan temperatur.
Uji in vitro dilakukan pada human dermal fibroblast cell CRL2522 yang diinduksi
proses penuaannya menggunakan H2O2. Beberapa parameter yang diamati
diantaranya adalah ekspresi SIRT1dan BCL2 yang memperkuat mekanisme terkait
antiaging. SIRT1 merupakan protein yang dapat diaktifasi oleh resveratrol sehingga
bekerja sebagai antiaging, sedangkan BCL2 merupakan suatu gen anti apoptosis
yang dapat mempertahankan keberlangsungan hidup sel.
Uji in vivo yang dilakukan bertahap diawali uji aktivitas antiaging menggunakan
tikus putih (Rattus novergicus) galur Wistar dilakukan dengan pemberian
nanoekstrak secara oral kemudian dilakukan evaluasi makroskopis dan pengukuran
kadar SIRT1. Kemudian untuk mengetahui keamanan nanoekstrak dan profil
farmakokinetik dilakukan uji toksisitas akut dan uji farmakokinetik untuk
mengetahui profil farmakokinetik nanoekstrak.
Uji in vitro pada Human Dermal Fibroblast Cell line (CRL2522) mengungkapkan
bahwa nanoekstrak ini memiliki aktivitas antiaging. Mekanisme antiaging
dikonfirmasi melalui peningkatan ekspresi SIRT1, yang berperan dalam perbaikan
sel, serta BCL2, gen yang menghambat apoptosis. Hasil ini menunjukkan bahwa
nanoekstrak mampu memodulasi jalur molekuler yang terkait dengan regenerasi
dan perlindungan sel kulit.
Pengujian in vivo pada tikus Wistar yang terpapar sinar UVB menunjukkan bahwa
pemberian oral nanoekstrak sklerotesta melinjo mampu mengurangi dampak
penuaan dengan meminimalisasi munculnya kerutan pada kulit dorsal. Hasil ini
mendukung potensinya sebagai agen antiaging oral yang efektif. Pada uji toksisitas
akut mengindikasikan bahwa nanoekstrak ini aman untuk konsumsi oral tanpa
menunjukkan efek toksik yang signifikan. Secara keseluruhan, penelitian ini
berhasil mentransformasikan limbah sklerotesta melinjo menjadi produk
nanoekstrak dengan aktivitas antiaging yang terbukti melalui pendekatan in vitro
dan in vivo. Keamanan serta efektivitas yang ditunjukkan oleh nanoekstrak ini
memperkuat potensinya sebagai kandidat agen antiaging oral yang inovatif dan
berkelanjutan.
Sebagai penelitian yang mengkaji potensi antiaging dari nanoekstrak sklerotesta
biji melinjo, hasil ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan suplemen
alami berbasis bahan alam lokal untuk pencegahan aging dan penyakit degeneratif
terkait usia. Pengembangan suplemen berbasis nanoekstrak ini dapat memberikan
alternatif terapi non-invasif. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada
pengayaan khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam pengembangan bahan
alam Indonesia yang bernilai tinggi dalam bidang kesehatan dan farmasi. Penelitian
ini juga merekomendasikan penelitian lanjutan untuk mengoptimalkan formulasi
nanoekstrak dan mengkaji efektivitas jangka panjangnya pada model hewan serta
uji klinis pada manusia. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi
pengembangan produk berbasis nanoekstrak sklerotesta melinjo di masa depan.
Perpustakaan Digital ITB