digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Danti Ashilla
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Industri kecil dan menengah (IKM) batik menghadapi tuntutan untuk mengurangi dampak lingkungan dengan tetap mempertahankan efisiensi proses produksi. Model maturitas Green Business Process Management (GBPM) yang tersedia belum menghubungkan konteks ekosistem, kapabilitas organisasi, dan pelaksanaan proses operasional secara multilevel. Model yang ada juga belum menyertakan mekanisme pembelajaran komplementer antarkapabilitas pada level proses. Penelitian ini mengembangkan model maturitas GBPM untuk menilai kematangan dan menetapkan prioritas perbaikan proses bisnis hijau pada IKM batik. Model dikembangkan melalui sintesis literatur, validasi ahli, dan studi multikasus pada enam IKM batik. Validitas dan reliabilitas 19 item diuji menggunakan content validity ratio (CVR), scale-level content validity index/average (S-CVI/Ave), dan Modified Kappa, sedangkan 22 keputusan mekanisme divalidasi menggunakan Aiken's V. Data wawancara, observasi terbatas, dan dokumentasi dianalisis melalui directed content analysis secara intra-kasus dan lintas kasus. Model memuat 11 dimensi multilevel, 19 item, dan lima tingkat maturitas, yaitu Novice, Develop, Integrate, Institutionalize, dan Optimize. Mekanisme pengukuran menggunakan agregasi geometrik dan tiga penalty gap untuk mendeteksi ketidakselarasan kapabilitas antarlevel arsitektur. Instrumen memperoleh rerata CVR 0,934, S-CVI/Ave 0,921, dan Modified Kappa 0,915, seluruhnya kategori excellent. Validasi Aiken's V menghasilkan rerata 0,816, dengan 18 dari 22 keputusan memenuhi ambang penerimaan (0,762), sedangkan empat keputusan lainnya ditindaklanjuti melalui penyempurnaan dan analisis sensitivitas. Keenam kasus tersebar pada Level 2 hingga Level 5, dengan konfigurasi kapabilitas yang berbeda pada setiap tingkat. Model juga membedakan konfigurasi dan ketidakselarasan pada kasus yang berada dalam tingkat maturitas yang sama. Model GBPM dapat menjelaskan posisi maturitas dan membantu menyusun prioritas perbaikan sesuai kondisi setiap IKM.