digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

COVER Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 1 Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 2 Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 3 Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 4 Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 5 Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 6 Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 7 Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

PUSTAKA Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

LAMPIRAN Mirfan Mikra
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Adopsi e-commerce oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu bentuk transformasi digital yang berpotensi memperluas jangkauan pasar, meningkatkan efektivitas promosi, memperbaiki layanan pelanggan, serta mendukung peningkatan daya saing usaha. Meskipun demikian, tingkat pemanfaatan e-commerce oleh UMKM di Provinsi Jawa Barat belum sepenuhnya merata. Sebagian pelaku usaha telah menggunakan e-commerce sebagai kanal penjualan, tetapi masih terdapat UMKM yang belum pernah menggunakan atau pernah mencoba namun tidak lagi melanjutkan penggunaannya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses adopsi e-commerce tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan platform digital, tetapi juga dipengaruhi oleh kesiapan, persepsi, kemampuan, dan karakteristik internal maupun eksternal UMKM. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model intensi adopsi e-commerce oleh UMKM di Provinsi Jawa Barat serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap intensi untuk mengadopsi e-commerce. Model penelitian dikembangkan berdasarkan kerangka Technology-Organization-Environment (TOE) dengan mengintegrasikan faktor teknologi, organisasi, lingkungan, serta dimensi budaya yang relevan dalam konteks adopsi e-commerce. Konstruk eksogen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uncertainty avoidance, long-term orientation, digital literacy, owner/manager innovativeness, perceived cost, perceived benefits, social learning, dan government digital enablement support. Sementara itu, konstruk endogen yang digunakan adalah perceived benefits sebagai konstruk endogen perantara dan intention to adopt e-commerce by MSMEs. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada UMKM makanan dan minuman di Provinsi Jawa Barat. Data yang berhasil dikumpulkan dan dinyatakan valid berjumlah 143 responden. Mayoritas responden merupakan usaha mikro. Data penelitian dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4.0. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dari sepuluh hipotesis yang diuji, terdapat lima hipotesis yang diterima yaitu: Digital literacy terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs, perceived benefits juga terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs, long-term orientation terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap ii perceived benefits, social learning terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap perceived benefits, dan government digital enablement support terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap perceived benefits. Kemudian, long-term orientation, government digital enablement support, dan social learning mempunyai pengaruh signifikan tidak langsung terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs. Sementara itu, uncertainty avoidance, long-term orientation, owner/manager innovativeness, perceived cost tidak terbukti secara empiris berpengaruh signifikan terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs. Dalam penelitian ini juga dilakukan analisis multigroup dan clustering untuk memperoleh pemahaman tambahan mengenai karakteristik UMKM. Hasil analisis multigroup menunjukkan bahwa long-term orientation dan owner/manager innovativeness terhadap intention to adopt memiliki perbedaan signifikan antara kelompok adopter dan non-adopter e-commerce. Pada kelompok adopter, hubungan kedua konstruk tersebut terhadap intention to adopt adalah negatif, sementara pada kelompok non-adopter hubungan kedua konstruk tersebut terhadap intention to adopt adalah positif. Selanjutnya, hasil clustering menghasilkan tiga kelompok UMKM, yaitu mayoritas usaha mikro pengguna aktif e-commerce, mayoritas usaha mikro bukan pengguna dan eks-pengguna e-commerce, serta mayoritas usaha dengan omzet lebih tinggi pengguna aktif e-commerce. Hambatan utama pada kelompok bukan pengguna dan eks-pengguna e-commerce yaitu keterbatasan sumber daya manusia, belum memahami cara menggunakan e-commerce, serta persepsi bahwa produk lebih cocok dijual secara offline. Manfaat utama dirasakan oleh kelompok pengguna aktif e-commerce adalah peningkatan penjualan dan kemudahan mengiklankan produk, diikuti oleh kemudahan promosi dan kemudahan pengiriman barang kepada pelanggan.