digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penerapan tata kelola pemerintahan yang baik membutuhkan peran aktif pegawai dalam melaporkan dugaan pelanggaran. Namun, partisipasi penggunaan Whistleblowing System (WBS) di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat masih rendah jika dibandingkan dengan metode pelaporan manual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi intensi whistleblowing pegawai melalui aplikasi WBS Jawa Barat. Penelitian ini berfokus pada pengembangan model yang mengintegrasikan Theory of Planned Behavior (TPB) dan Technology Acceptance Model (TAM), serta mengeksplorasi peran variabel faktor organisasi dan nilai-nilai budaya untuk memahami perspektif pegawai secara komprehensif. Sebelum pengujian, variabel dan indikator divalidasi terlebih dahulu menggunakan Fuzzy Delphi Method (FDM) bersama panel pakar untuk memastikan relevansi instrumen. Pengambilan data dilakukan melalui kuesioner terhadap 173 pegawai di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. Pengolahan data dilakukan dengan metode statistik Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menggunakan perangkat lunak SmartPLS 4 untuk mengetahui interaksi dan signifikansi hubungan variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor subjective norms, public service motivation, dan long-term orientation memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi whistleblowing. Selain itu, perceived transparency dan perceived security terbukti secara signifikan membangun perceived trust pegawai terhadap mekanisme whistleblowing melalui WBS. Variabel whistleblowing education, public service motivation, dan perceived seriousness of wrongdoing juga secara signifikan mampu meningkatkan pemahaman pelaporan. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pemerintah daerah untuk tidak hanya berfokus pada ketersediaan aplikasi, tetapi juga aktif memperkuat dukungan sosial, meningkatkan motivasi pelayanan publik, dan membangun orientasi masa depan kepada pegawai. Dengan strategi tersebut, WBS Jawa Barat dapat berperan sebagai sarana pengawasan internal yang efektif dalam mencegah terjadinya pelanggaran serta mendukung perwujudan prinsip good governance di lingkungan pemerintahan.