digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penyakit periodontal merupakan penyakit yang cukup umum di Indonesia, dan salah satu penanganannya dapat dilakukan menggunakan membran guided bone regeneration (GBR) dua lapis. Penelitian ini mengembangkan membran GBR berbasis kolagen, fibroin, dan nano-hidroksiapatit (n-HAp) sebagai upaya pemanfaatan limbah biomassa kulit dan tulang ikan lele serta kepompong ulat sutra Bombyx mori. Membran terdiri atas lapisan barrier berbasis kolagen (CP-15) yang mengandung 15% dialdehyde starch (DAS) sebagai agen ikat silang dan difabrikasi menggunakan metode freeze-drying yang dilanjutkan dengan compression molding, serta lapisan osteogenik berupa fibroin–n-HAp (HF) dan fibroin–n-HAp–kolagen (CHF) yang difabrikasi menggunakan metode freeze-drying. Karakterisasi SDS-PAGE, FTIR, dan DSC mengonfirmasi keberhasilan isolasi kolagen tipe I dari kulit ikan lele dengan profil pita protein dan gugus fungsi yang serupa dengan kolagen komersial serta temperatur denaturasi sebesar 46,64 °C. Optimasi konsentrasi DAS (0–15%) menghasilkan struktur kolagen yang semakin terstruktur seiring peningkatan konsentrasi DAS tanpa mengubah struktur primer kolagen secara signifikan. n-HAp hasil ekstraksi memiliki ukuran partikel sebesar 16,25 ± 4,74 nm, fasa kristal hidroksiapatit murni, dan rasio Ca/P sebesar 1,67 yang sesuai dengan rasio stoikiometrinya. Fibroin hasil ekstraksi menunjukkan struktur sekunder berupa campuran random coil dan ?-sheet. Komposit CHF menunjukkan morfologi pori yang lebih terstruktur dan interaksi antarmolekul yang lebih kuat dibandingkan HF berdasarkan hasil analisis FTIR dan XRD. Evaluasi fungsional menunjukkan bahwa CP-15 bersifat hidrofobik dengan sudut kontak sebesar 113,78 ± 5,71°, memiliki swelling rendah (20–115%), dan pertumbuhan sel MC3T3-E1 yang terbatas, sesuai dengan fungsinya sebagai lapisan barrier. Sebaliknya, HF dan CHF bersifat lebih hidrofilik dengan sudut kontak masing-masing sebesar 77,77 ± 4,71° dan 89,58 ± 5,36°, serta memiliki swelling tinggi (750–800%) dan mampu mendukung proliferasi sel secara konsisten hingga hari ke-7. Sehingga dibandingkan sampel HF, sampel CHF menunjukkan performa yang lebih baik pada masa inkubasi awal dan menjadi komposit yang paling potensial untuk aplikasi osteogenik.