Penelitian ini bertujuan mengelaborasi hubungan antara parameter proses, evolusi
mikrostruktur, sifat mekanik, serta ketahanan terhadap hot corrosion pada coating
komposit ???????????????????????????? + ????????????????(??????????????) yang difabrikasi menggunakan metode High
Velocity Oxygen Fuel (HVOF). Pendekatan mechanical milling selama 2–36 jam
diterapkan sebagai strategi rekayasa mikrostruktur berbasis teknologi nano untuk
memodifikasi karakteristik feedstock sebelum deposisi. Penelitian dilaksanakan
dalam dua tahapan yang saling terintegrasi, yaitu (i) investigasi pengaruh komposisi
dan durasi mechanical milling terhadap evolusi mikrostruktur serta sifat mekanik
coating, dan (ii) evaluasi pengaruh mikrostruktur hasil fabrikasi terhadap ketahanan
hot corrosion pada lingkungan yang merepresentasikan kondisi aktual boiler
batubara dan biomassa, yaitu paparan garam campuran ???????????????? + ?????????????????? pada
temperatur 750 °C selama 12–100 jam.
Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa evolusi mikrostruktur serbuk
dikendalikan oleh transisi mekanisme cold welding menuju fracture-dominated
refinement setelah sekitar 12 jam mechanical milling. Transformasi fase ???????????????? (????)
menjadi ????????????????? (?????) terjadi secara konsisten pada seluruh komposisi, sedangkan
komposisi hanya mempengaruhi laju ukuran partikel. Meskipun mechanical milling
menghasilkan mikrostruktur yang semakin halus, peningkatan waktu milling tidak
meningkatkan sifat mekanik coating. Penurunan kekerasan dan ketahanan aus
justru disebabkan oleh meningkatnya fenomena in-flight oxidation selama deposisi
HVOF yang membentuk jaringan oksida rapuh pada batas splat. Analisis statistik
mengkonfirmasi adanya interaksi signifikan antara komposisi dan durasi milling
terhadap kekerasan (p = 0,0035), dengan komposisi yang kaya karbida mengalami
penurunan kekerasan lebih besar dibandingkan komposisi yang lebih kaya
????????????????????????????. Berdasarkan keseimbangan antara rekayasa mikrostruktur dan
minimisasi oksidasi selama deposisi, rentang mechanical milling selama 2–12 jam
diidentifikasi sebagai kondisi pemrosesan yang optimum.
Berdasarkan hasil tersebut, pengujian hot corrosion dilakukan menggunakan
coating yang diproses dengan mechanical milling selama 2 jam sehingga
mekanisme degradasi yang diamati merepresentasikan perilaku selama operasi dan
bukan akibat penurunan kualitas coating pada tahap fabrikasi. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa ketahanan hot corrosion terutama ditentukan oleh
keseimbangan antara kecukupan cadangan aluminium (Al reservoir) dan laju
deplesinya. Coating dengan 50 ????????. % ???????????????????????????? mempertahankan perlindungan
melalui regenerasi lapisan ??????????????, pembentukan spinel ??????????????????????, dan stabilisasi
batas butir oleh ?????????????????, sehingga menunjukkan laju degradasi yang rendah selama
paparan hingga 100 jam. Sebaliknya, coating dengan 25 ????????. % ????????????????????????????
mengalami deplesi aluminium yang lebih cepat sehingga pembentukan ??????????????
terhambat, diikuti dominasi fase ????????????, pembentukan Kirkendall void, dan
delaminasi coating. Coating dengan komposisi 25 ????????. % ???????????????????????????? dan melalui
milling mengalami degradasi yang cukup signifikan, di mana peningkatan difusi
akibat mechanical milling justru mempercepat konsumsi cadangan aluminium.
Kondisi ini menunjukan bahwa perlakuan milling yang semula meningkatkan
kualitas mikrostruktur berubah menjadi faktor yang mempercepat degradasi selama
paparan korosi temperatur tinggi. Analisis SEM/EDS dan XRD mengkonfirmasi
jalur degradasi tersebut melalui identifikasi fasa ??????????????????????, ????????????, ?????????????????, dan
????????????????(?????????????)?.
Integrasi kedua tahapan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan mechanical
milling bergantung pada kecukupan cadangan aluminium yang tersedia dalam
????????????????????????????. Pada komposisi dengan kandungan 50 ????????. % ????????????????????????????, peningkatan
difusi akibat milling mendukung regenerasi lapisan ?????????????? sehingga meningkatkan
ketahanan hot corrosion. Sebaliknya, pada komposisi 25 ????????. % ????????????????????????????,
mekanisme difusi yang sama justru mempercepat konsumsi cadangan aluminium.
Dengan demikian, komposisi material, durasi mechanical milling, evolusi
mikrostruktur, sifat mekanik, dan ketahanan hot corrosion yang harus dioptimalkan
secara terpadu. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan coating
komposit ???????????????????????? ? ???????????????????????? berbasis HVOF yang memiliki kombinasi sifat
mekanik dan ketahanan korosi temperatur tinggi yang optimum untuk aplikasi pada
sistem boiler batubara maupun biomassa. Dari sisi praktis, hasil penelitian
memberikan pedoman dalam pemilihan komposisi NiCrAlY dan parameter
mechanical milling untuk menghasilkan coating dengan kombinasi sifat mekanik
dan ketahanan hot corrosion yang optimum. Temuan ini berpotensi mendukung
peningkatan umur pakai komponen superheater, reheater, dan waterwall pada boiler
batubara maupun biomassa, mengurangi frekuensi shutdown akibat kerusakan
korosi temperatur tinggi, menekan biaya pemeliharaan, serta meningkatkan
keandalan dan efisiensi operasi pembangkit listrik berbasis energi fosil maupun
biomassa.
Perpustakaan Digital ITB