Keputusan pasar tujuan dan pembagian volume merupakan aspek komersial
penting pada tahap sebelum Final Investment Decision (pre-FID) proyek Liquefied
Natural Gas (LNG), karena harga jual tertinggi tidak selalu menghasilkan nilai
bersih produsen tertinggi setelah perbedaan biaya penyerahan dan risiko
diperhitungkan. Penelitian ini mengembangkan kerangka optimasi alokasi LNG
Timor-Leste yang mengintegrasikan netback produsen, perubahan rezim pasar,
risiko portofolio, risiko kerugian ekor, analisis sensitivitas, dan validasi out-ofsample.
Pasar tujuan didefinisikan sebagai alternatif pasar ekspor LNG, yaitu
Northeast Asia, South/Southeast Asia, dan Northwest Europe. Data bulanan Januari
2011 - Desember 2025 menggunakan Japan LNG cif sebagai proksi publik
Northeast Asia, Brent sebagai dasar formula LNG terindeks minyak untuk
South/Southeast Asia, dan European natural gas/TTF sebagai proksi Northwest
Europe. Seluruh harga dinyatakan dalam USD riil Desember 2025. Netback
dihitung pada titik referensi produsen dengan mengurangkan biaya gas umpan dan
pipa, pencairan, pengangkutan, serta regasifikasi dari harga tujuan.
Rezim pasar diidentifikasi menggunakan Markov switching dua keadaan. Keadaan
dengan varians lebih rendah diberi label calm dan keadaan dengan varians lebih
tinggi diberi label volatile. Rata-rata netback dan kovarians kemudian diestimasi
per rezim dan digunakan dalam model Mean-Variance berbasis Markowitz,
sedangkan Conditional Value at Risk (CVaR) digunakan sebagai pembanding
untuk menilai risiko kerugian ekor. Pada skenario dasar, total volume ditetapkan
5,00 MTPA dengan batas akses maksimum 3,00 MTPA per pasar. Hasil
menunjukkan 156 bulan calm dan 24 bulan volatile, dengan episode volatile Asia dan 2,00 MTPA ke Eropa. CVaR menghasilkan
komposisi berbeda, terutama pada volatile, yaitu 2,00 MTPA ke Northeast Asia dan
3,00 MTPA ke Eropa, sehingga definisi risiko terbukti memengaruhi keputusan
alokasi.
Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa Brent slope, biaya pengangkutan Eropa,
dan intensitas shrinkage dapat mengubah komposisi alokasi, sedangkan biaya
pencairan yang berlaku sama pada seluruh pasar terutama mengubah nilai proyek.
Nilai informasi rezim diperkirakan sekitar USD 2,0 juta per tahun pada Mean-
Variance dan USD 11,2 juta per tahun pada CVaR. Validasi walk-forward selama
120 bulan menempatkan 1/N sebagai benchmark. Mean-Variance menghasilkan
rata-rata netback 5,981 USD/MMBtu dengan simpangan baku 4,372 USD/MMBtu,
dibandingkan 1/N sebesar 5,526 USD/MMBtu dan 5,749 USD/MMBtu. Dengan
demikian, Mean-Variance meningkatkan rata-rata netback sekaligus menurunkan
volatilitas relatif terhadap benchmark, meskipun maximum return dan CVaR
memberikan rata-rata lebih tinggi dengan risiko lebih besar.
Kebaruan penelitian terletak pada integrasi netback, Markov switching, Mean-
Variance, CVaR, shrinkage, nilai informasi rezim, sensitivitas, dan validasi walkforward
dalam satu kerangka keputusan fisik alokasi LNG Timor-Leste. Kontribusi
praktisnya adalah menyediakan dasar perbandingan pasar yang terukur. Kerangka
ini transparan, dapat diaudit, dan dapat diperbarui, tetapi hasilnya tetap kondisional
terhadap proksi harga, asumsi biaya, volume, batas akses pasar, dan kalibrasi risiko.
Oleh karena itu, kerangka yang dikembangkan diposisikan sebagai alat bantu keputusan pre-FID dan bukan sebagai pengganti evaluasi teknik, komersial,
kontraktual, fiskal, dan finansial untuk keputusan FID.
Perpustakaan Digital ITB