Karies gigi dan penyakit periodontal merupakan penyakit rongga mulut dengan prevalensi tinggi
yang diawali oleh disbiosis mikrobiota, sehingga meningkatkan kolonisasi Streptococcus mutans
sebagai bakteri utama dalam penyakit karies dan pembentuk biofilm pada permukaan gigi.
Pengendalian pertumbuhan Streptococcus mutans pada tahap awal kolonisasi menjadi pendekatan
utama pada penelitian ini, namun efektivitas terapi lokal di rongga mulut masih terbatas akibat
cepatnya eliminasi sediaan oleh lingkungan rongga mulut yang dinamis. Oleh karena itu, penelitian
ini bertujuan untuk membuat sediaan nanoemulgel yang mengandung kombinasi kurkumin dan
minyak cengkeh sebagai sistem penghantaran obat yang mampu mengendalikan pertumbuhan
Streptococcus mutans sekaligus meningkatkan waktu kontak pada rongga mulut. Kurkumin dan
minyak cengkeh memiliki aktivitas antibakteri dengan nilai KHM masing-masing sebesar 16 mg/L
dan 1250 mg/L, serta kombinasi antara kurkumin 8 mg/L dan minyak cengkeh 625 mg/L
menunjukkan interaksi aditif terhadap Streptococcus mutans. Nanoemulsi dikembangkan
menggunakan metode self-nano emulsifica?on dan ultrasonikasi dengan fase minyak yang
mengandung asam oleat dan ?-tokoferol sebagai antioksidan, serta fase air yang terdiri atas Tween
80 sebagai surfaktan, PEG 400 sebagai kosurfaktan, dan kalium sorbat sebagai pengawet. Nilai
kelarutan kurkumin dalam asam oleat adalah 1,394 mg/mL sedangkan dalam minyak cengkeh
adalah 1,062 mg/mL. Rasio optimum antara surfaktan dan kosurfaktan (Smix) ditentukan melalui
pembuatan diagram fase pseudoterner. Formula optimum yang mengandung fase minyak 5% dan
Smix 35% menghasilkan nanoemulsi dengan ukuran globul 69,370 ± 0,462 nm, PDI 0,138 ± 0,009,
zeta potensial -10,20 ± 1,05 mV, pH 5,97 ± 0,02, serta morfologi globul yang berbentuk sferis dengan
permukaan yang relatif halus dan tidak menunjukkan terjadinya agregasi. Selama penyimpanan 28
hari pada tiga suhu yang berbeda, nanoemulsi menunjukkan nilai ukuran globul, PDI, dan pH yang
masih berada dalam rentang yang dipersyaratkan serta tidak terjadinya pemisahan fase selama
penyimpanan maupun sentrifugasi. Basis gel kitosan 2,5% dengan pH 5,71 ± 0,02 dan viskositas
5146,67 ± 30,55 cPs dipilih untuk dikombinasikan dengan nanoemulsi pada rasio 1:3. Nanoemulgel
yang mengandung kurkumin 16 mg/L dan minyak cengkeh 1250 mg/L menghasilkan log reduksi
sebesar 5,94 terhadap kelompok basis yang artinya dapat menurunkan >99,999% jumlah S. mutans.
Nanoemulgel tersebut memiliki pH 5,75 ± 0,02, viskositas 3510 ± 10 cPs, bersifat homogen,
memenuhi uji syringeability, dan tidak mengalami pemisahan fase setelah pengujian stabilitas
termodinamik meskipun terjadi penurunan signifikan pada pH dan viskositas. Penambahan saliva
steril menurunkan gaya mukoadhesif sediaan secara signifikan dari 0,58 ± 0,017 N menjadi 0,37 ±
0,022 N tetapi energi total yang diperlukan untuk melepaskan sediaan dari permukaan mukosa tidak
berbeda bermakna. Hasil ini menunjukkan bahwa nanoemulgel yang mengandung kurkumin dan
minyak cengkeh memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans sehingga berpotensi
menjadi sistem penghantaran lokal untuk membantu mengendalikan pertumbuhan Streptococcus
mutans yang berperan pada perkembangan karies dan penyakit periodontal.
Perpustakaan Digital ITB