International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan jumlah penderita diabetes melitus
(DM) di Indonesia dapat mencapai 28,57 juta pada 2045, menjadikan Indonesia sebagai negara
penderita DM ketujuh terbesar di dunia. Edukasi terstruktur untuk meningkatkan manajemen
perawatan DM telah terbukti efektif membantu pasien, tetapi keterbatasan waktu di layanan
primer seringkali membuat proses konseling tidak optimal. Di sisi lain pemanfaatan teknologi
digital saat ini menawarkan peluang untuk meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri
pasien dalam mengelola penyakit kronis yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk
mengembangkan layanan digital edukasi gaya hidup sehat berkelanjutan sebagai panduan
pengelolaan dan penatalaksanaan diabetes melitus, dengan tujuan akhir menurunkan HbA1c
dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods sequential exploratory yang terdiri atas
empat tahapan utama, dengan integrasi metode kualitatif dan kuantitatif.
Tahap pertama merupakan studi kualitatif eksploratif yang bertujuan untuk menggali
ekspektasi dan kebutuhan pasien terhadap layanan digital dalam pengelolaan T2DM.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 20 responden yang
dipilih secara purposif. Analisis data dilakukan secara tematik menggunakan perangkat lunak
NVivo untuk mengidentifikasi tema-tema utama, yang kemudian menjadi dasar
pengembangan fitur dan konten intervensi digital.
Tahap kedua adalah tahap pengembangan aplikasi digital Sahabat DM menggunakan
pendekatan research and development (R&D) berbasis desain partisipatif. Proses ini
melibatkan masukan dari pasien dan tenaga medis / kesehatan untuk memastikan bahwa
aplikasi memenuhi kebutuhan pengguna. Aplikasi memuat edukasi audio visual (video)
berdurasi 1–2 menit tentang gaya hidup sehat, pengelolaan diet, aktivitas fisik, informasi obat,
efek sampingnya tanaman berkhasiat, dan teknik relaksasi, materi edukasi per pekan.
Tahap ketiga merupakan uji Usability aplikasi secara kuantitatif menggunakan pendekatan
deskriptif. Penilaian/evaluasi dilakukan menggunakan instrumen System Usability Scale (SUS)
dan Single Ease Question (SEQ) terhadap sejumlah pengguna terbatas untuk menilai
kemudahan penggunaan dan kenyamanan akses -fitur aplikasi. Hasil uji Usability pada tahap
ketiga menunjukkan bahwa aplikasi memiliki tingkat kelayakan penggunaan yang baik, dengan
skor System Usability Scale (SUS) sebesar 72 dengan kategori B (good) dan skor Single Ease
Question (SEQ) rata-rata 5 yang menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai setiap tugas
dalam aplikasi dapat diselesaikan dengan tingkat kemudahan yang relatif baik digunakan dan
diterima oleh pengguna.
Tahap keempat adalah implementasi intervensi digital melalui desain kuantitatif quasieksperimental dengan pre-test and post-test control group. Sebanyak 100 pasien T2DM
dengan kadar HbA1c tidak terkontrol (> 8%) direkrut dari 10 Puskesmas di Kota Bandung
selama periode Desember 2023 hingga Juni 2024. Responden dibagi secara seimbang ke dalam
dua kelompok: kelompok intervensi (n=50) yang menerima layanan digital Sahabat DM
selama 24 pekan, dan kelompok kontrol (n=50) yang memperoleh konseling konvensional dari
Puskesmas.
Materi edukasi digital diberikan secara rutin setiap pekan melalui media audio-visual, yang
berfokus pada peningkatan kesadaran, edukasi berkelanjutan, dan penguatan perilaku hidup
sehat. Hasil studi menunjukkan bahwa proporsi responden kelompok intervensi dengan kadar
HbA1c 8–9% mengalami penurunan signifikan dari 40% pada awal seleksi menjadi 7% setelah
6 bulan intervensi. Sementara itu, pada kelompok kontrol, proporsi responden dengan HbA1c
6–8% menurun dari 44% menjadi 20% setelah konseling konvensional selama periode yang
sama.
Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi berbasis aplikasi digital Sahabat DM efektif dalam
menurunkan kadar HbA1c, meningkatkan pemahaman pasien terhadap pengelolaan diabetes
melitus, berpotensi diintegrasikan ke layanan primer sebagai model edukasi diabetes berbasis
teknologi. serta mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB