digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan jumlah penderita diabetes melitus (DM) di Indonesia dapat mencapai 28,57 juta pada 2045, menjadikan Indonesia sebagai negara penderita DM ketujuh terbesar di dunia. Edukasi terstruktur untuk meningkatkan manajemen perawatan DM telah terbukti efektif membantu pasien, tetapi keterbatasan waktu di layanan primer seringkali membuat proses konseling tidak optimal. Di sisi lain pemanfaatan teknologi digital saat ini menawarkan peluang untuk meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri pasien dalam mengelola penyakit kronis yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan layanan digital edukasi gaya hidup sehat berkelanjutan sebagai panduan pengelolaan dan penatalaksanaan diabetes melitus, dengan tujuan akhir menurunkan HbA1c dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods sequential exploratory yang terdiri atas empat tahapan utama, dengan integrasi metode kualitatif dan kuantitatif. Tahap pertama merupakan studi kualitatif eksploratif yang bertujuan untuk menggali ekspektasi dan kebutuhan pasien terhadap layanan digital dalam pengelolaan T2DM. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 20 responden yang dipilih secara purposif. Analisis data dilakukan secara tematik menggunakan perangkat lunak NVivo untuk mengidentifikasi tema-tema utama, yang kemudian menjadi dasar pengembangan fitur dan konten intervensi digital. Tahap kedua adalah tahap pengembangan aplikasi digital Sahabat DM menggunakan pendekatan research and development (R&D) berbasis desain partisipatif. Proses ini melibatkan masukan dari pasien dan tenaga medis / kesehatan untuk memastikan bahwa aplikasi memenuhi kebutuhan pengguna. Aplikasi memuat edukasi audio visual (video) berdurasi 1–2 menit tentang gaya hidup sehat, pengelolaan diet, aktivitas fisik, informasi obat, efek sampingnya tanaman berkhasiat, dan teknik relaksasi, materi edukasi per pekan. Tahap ketiga merupakan uji Usability aplikasi secara kuantitatif menggunakan pendekatan deskriptif. Penilaian/evaluasi dilakukan menggunakan instrumen System Usability Scale (SUS) dan Single Ease Question (SEQ) terhadap sejumlah pengguna terbatas untuk menilai kemudahan penggunaan dan kenyamanan akses -fitur aplikasi. Hasil uji Usability pada tahap ketiga menunjukkan bahwa aplikasi memiliki tingkat kelayakan penggunaan yang baik, dengan skor System Usability Scale (SUS) sebesar 72 dengan kategori B (good) dan skor Single Ease Question (SEQ) rata-rata 5 yang menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai setiap tugas dalam aplikasi dapat diselesaikan dengan tingkat kemudahan yang relatif baik digunakan dan diterima oleh pengguna. Tahap keempat adalah implementasi intervensi digital melalui desain kuantitatif quasieksperimental dengan pre-test and post-test control group. Sebanyak 100 pasien T2DM dengan kadar HbA1c tidak terkontrol (> 8%) direkrut dari 10 Puskesmas di Kota Bandung selama periode Desember 2023 hingga Juni 2024. Responden dibagi secara seimbang ke dalam dua kelompok: kelompok intervensi (n=50) yang menerima layanan digital Sahabat DM selama 24 pekan, dan kelompok kontrol (n=50) yang memperoleh konseling konvensional dari Puskesmas. Materi edukasi digital diberikan secara rutin setiap pekan melalui media audio-visual, yang berfokus pada peningkatan kesadaran, edukasi berkelanjutan, dan penguatan perilaku hidup sehat. Hasil studi menunjukkan bahwa proporsi responden kelompok intervensi dengan kadar HbA1c 8–9% mengalami penurunan signifikan dari 40% pada awal seleksi menjadi 7% setelah 6 bulan intervensi. Sementara itu, pada kelompok kontrol, proporsi responden dengan HbA1c 6–8% menurun dari 44% menjadi 20% setelah konseling konvensional selama periode yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi berbasis aplikasi digital Sahabat DM efektif dalam menurunkan kadar HbA1c, meningkatkan pemahaman pasien terhadap pengelolaan diabetes melitus, berpotensi diintegrasikan ke layanan primer sebagai model edukasi diabetes berbasis teknologi. serta mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat dan berkelanjutan.