Pusat perbelanjaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas komersial, tetapi juga sebagai ruang publik yang memiliki tanggung jawab ekonomi, sosial, dan keselamatan yang besar. Di Indonesia, pertumbuhan industri pusat perbelanjaan menuntut adanya sistem manajemen keselamatan yang lebih terstruktur, proaktif, dan dapat diterapkan secara konsisten, khususnya bagi operator mal berskala besar dengan kondisi bangunan dan tingkat kematangan operasional yang beragam. Lippo Malls Indonesia (LMI), sebagai pengelola jaringan mal di berbagai wilayah, menghadapi tantangan dalam menjaga standar keselamatan yang seragam di tengah perbedaan ukuran mal, usia bangunan, karakter tenant, jumlah pengunjung, dan kesiapan infrastruktur. Praktik keselamatan yang berjalan selama ini masih cenderung reaktif dan terfragmentasi, sementara pengukuran kinerja keselamatan masih banyak bertumpu pada indikator lagging dan aktivitas kepatuhan.
Penelitian ini mengembangkan Strategic Sustainable Safety Balanced Scorecard (SSSBSC) sebagai kerangka pengukuran kinerja keselamatan yang praktis untuk operasional pusat perbelanjaan. Model ini memperluas Balanced Scorecard tradisional dengan menambahkan perspektif kelima, yaitu Safety and Sustainability, agar aspek keselamatan publik, kesiapsiagaan darurat, keandalan sistem, dan ketahanan keselamatan jangka panjang memperoleh perhatian strategis yang lebih jelas. Dalam penelitian ini, keberlanjutan dimaknai terutama sebagai keberlanjutan sosial, yaitu kemampuan operasional mal dalam melindungi pengunjung, tenant, pekerja, kontraktor, dan aset secara berkelanjutan.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed-methods. Tahap pertama dilakukan melalui validasi KPI Dictionary oleh delapan responden Head Office dari fungsi operasional, facility management, engineering, HSE, legal, business process, dan sustainability. Hasil validasi menunjukkan bahwa 20 KPI yang diusulkan dapat diterima secara umum, dengan nilai rata-rata keseluruhan sebesar 3,275 dan tingkat kesepakatan sebesar 87,08 persen. Aspek relevansi dan kejelasan memperoleh penilaian yang kuat, sedangkan aspek keterukuran masih memerlukan penyempurnaan, terutama pada indikator keluhan keselamatan pelanggan, biaya kerugian akibat insiden, pelaporan near-miss, klasifikasi severity, dan pengujian fungsi sistem keselamatan kritis.
Tahap kedua menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot setiap perspektif dan KPI. Hasil AHP menunjukkan bahwa perspektif Safety and Sustainability memiliki bobot tertinggi sebesar 40,32 persen, diikuti oleh Internal Process sebesar 21,94 persen, Customer sebesar 13,45 persen, Learning and Growth sebesar 13,11 persen, dan Financial sebesar 11,18 persen. KPI dengan peringkat tertinggi adalah Emergency Readiness Index, TRIR / Recordable Incident Rate, Critical Safety System Function Test Pass Rate, Incident Severity Index, dan Safety Inspection Plan Completion Rate. Selanjutnya, metode Objective Matrix (OMAX) digunakan untuk menunjukkan bagaimana KPI berbobot tersebut dapat dikonversi menjadi Safety Performance Index yang terstandardisasi.
Pilot pada Lippo Mall Kemang (LMK) menggunakan data aktual internal HSE audit dan follow-up progress, dengan hasil Safety Performance Index sebesar 8,155 atau kategori Green. Hasil ini menunjukkan bahwa fondasi keselamatan LMK relatif kuat, namun masih terdapat area yang tetap perlu diperkuat, khususnya pelaporan near-miss/hazard, sertifikasi peran kunci, preventive maintenance, dan tindak lanjut fire and life safety.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa SSSBSC dapat membantu LMI mengubah pengelolaan keselamatan dari fungsi kepatuhan yang reaktif menjadi sistem manajemen yang strategis, terukur, dan berbasis portofolio. Kerangka ini memungkinkan benchmarking antar-mal secara lebih konsisten, mendukung pengambilan keputusan berbasis data, memperkuat akuntabilitas, serta membantu manajemen menentukan prioritas investasi keselamatan berdasarkan tingkat risiko dan kesenjangan kinerja.
Perpustakaan Digital ITB