digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800








DAFTAR PUSTAKA AZ-ZAHRA DYAH ZHAFIRA MALIK
EMBARGO  2029-09-17 

LAMPIRAN AZ-ZAHRA DYAH ZHAFIRA MALIK
EMBARGO  2029-09-17 

Perkembangan media sosial telah mengubah cara wisatawan memperoleh informasi, mengevaluasi, dan memiliki destinasi wisata kuliner. Konten kuliner yang tersebar secara luas, memperoleh interaksi tinggi, muncul secara berulang, dan didukung oleh validasi pengguna lain berpotensi memengaruhi keputusan perjalanan wisatawan. Namun, kajian mengenai pengaruh media sosial dalam pariwisata masih banyak berfokus pada keputusan berkunjung atau pemilihan destinasi, sementara keterkaitannya dengan pola pergerakan wisatawan setelah keputusan terbentuk, khususnya dalam konteks wisata kuliner perkotaan, masih memerlukan kajian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik responden dan variabel penelitian terkait viralitas konten dan pola pergerakan, menganalisis pengaruh viralitas konten kuliner di media sosial terhadap pola pergerakan wisatawan kuliner, serta mengidentifikasi karakteristik pola pergerakan wisatawan kuliner secara spasial di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang diintegrasikan dengan analisis spasial. Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner terhadap 204 responden, sedangkan analisis spasial menggunakan data perjalanan dari 194 responden yang memenuhi kebutuhan pengolahan spasial sebagai Volunteered Geographic Information (VGI). Viralitas konten dioperasionalkan melalui empat dimensi, yaitu Sebaran Konten, Tingkat Engagement, Repetisi Paparan, dan Social Proof, sedangkan pola pergerakan dioperasionalkan melalui Keputusan Pemilihan Destinasi, Intensitas Pergerakan, dan Perubahan Perilaku Moda dan Waktu. Analisis kuantitatif meliputi statistik deskriptif dan tiga model regresi linear berganda. Analisis spasial dilakukan menggunakan matriks Origin-Destination (OD), desire lines, dan Kernel Density Estimation (KDE). Data konten TikTok yang telah dikurasi berdasarkan konten berbentuk itinerary atau rangkaian destinasi kuliner digunakan sebagai pembanding spasial terhadap pola perjalanan aktual yang diperoleh melalui VGI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki keterpaparan yang tinggi terhadap informasi kuliner melalui media sosial dan perjalanan wisata kuliner secara dominan bersifat multidestinasi. Sebanyak 99,0% responden pada sampel spasial mengunjungi lebih dari satu destinasi kuliner. Hasil regresi menunjukkan bahwa dimensi viralitas konten secara simultan membentuk model yang signifikan terhadap Keputusan Pemilihan Destinasi, Intensitas Pergerakan, serta Perubahan Perilaku Moda dan Waktu. Kemampuan model dalam menjelaskan variasi masing-masing variabel dependen adalah 62,6% untuk Keputusan Pemilihan Destinasi, 46,8% untuk Intensitas Pergerakan, dan 45,1% untuk Perubahan Perilaku Moda dan Waktu. Secara Parsial, Repetisi Paparan dan Social Proof merupakan dimensi yang secara konsisten berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pemilihan Destinasi dan Intensitas Pergerakan, sedangkan Tingkat Engagement, tidak menunjukkan pengaruh parsial yang signifikan pada ketiga model. Social Proof memiliki pengaruh relatif terbesar terhadap Keputusan Pemilihan Destinasi dan Perubahan Perilaku Moda dan Waktu, sedangkan Repetisi Paparan memiliki pengaruh relatif terbesar terhadap Intensitas Pergerakan. Analisis spasial memperkuat temuan kuantitatif dengan memberikan gambaran faktual dan keruangan terhadap pola pergerakan wisatawan. Matriks OD VGI menghasilkan 574 segmen pergerakan dan menunjukkan konsentrasi pergerakan terutama pada Bandung Wetan dan Sumur Bandung. Pola tersebut juga terlihat pada desire lines yang menunjukkan konsentrasi segmen pergerakan pada kawasan pusat Kota Bandung dan kecamatan di sekitarnya. Analisis KDE terhadap 250 destinasi unik pada data VGI menunjukkan konsentrasi terbesar di Bandung Wetan, Sumur Bandung, dan Coblong. Sementara itu, data TikTok yang mencakup 243 destinasi unik dan menghasilkan 542 segmen hubungan antardestinasi memperlihatkan pola spasial yang relatif serupa, terutama melalui dominasi Bandung Wetan dan Sumur Bandung pada hasil OD, desire lines, dan KDE. Kemiripan tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi spasial destinasi dalam perjalanan aktual responden memiliki bentuk yang relatif serupa dengan destinasi yang direpresentasikan dalam konten TikTok, tanpa mengindikasikan hubungan sebab-akibat secara spasial. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi pengujian pengaruh multidimensi viralitas konten dengan analisis spasial pola pergerakan wisata kuliner serta penggunaan VGI dan data TikTok sebagai dua sumber data yang saling melengkapi. Berbeda dengan kajian yang menempatkan media sosial terutama pada tahap pemilihan destinasi, penelitian ini memperluas analisis hingga intensitas pergerakan serta perubahan perilaku moda dan waktu, kemudian memberikan konteks keruangan melalui pola perjalanan aktual wisatawan. Hasil penelitian memberikan kontribusi terhadap kajian perilaku wisatawan dan geografi pariwisata dengan menunjukkan bahwa pengaruh viralitas konten terhadap pola pergerakan tidak hanya berbeda menurut dimensi viralitas, tetapi dapat dikaji secara lebih komprehensif melalui integrasi bukti statistik, karakteristik perjalanan, dan konfigurasi spasial. Secara keseluruhan, viralitas konten berpengaruh terhadap pola pergerakan wisatawan kuliner di Kota Bandung, dengan Repetisi Paparan dan Social Proof sebagai dimensi yang paling konsisten, sementara perjalanan aktual menunjukkan karakter multidestinasi dan konsentrasi spasial terutama pada kawasan pusat Kota Bandung.