digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Limbah teh masih mengandung senyawa bioaktif, terutama polifenol, flavonoid, tanin, dan katekin, yang berpotensi dikembangkan sebagai agen antiinflamasi. Fermentasi limbah daun teh diduga dapat memodifikasi profil metabolit sekundernya sehingga memengaruhi kemampuan sampel dalam menghambat denaturasi protein yang berkaitan dengan proses inflamasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh monofermentasi menggunakan Lactiplantibacillus plantarum, kofermentasi L. plantarum dan Saccharomyces cerevisiae, serta fermentasi menggunakan SCOBY terhadap aktivitas antiinflamasi dan profil metabolit limbah teh. Sampel hasil fermentasi dipisahkan menjadi fraksi etil asetat, fraksi air, dan fraksi hasil freeze-drying. Aktivitas antiinflamasi diuji menggunakan metode inhibisi denaturasi protein bovine serum albumin (BSA), sedangkan profil metabolit dianalisis menggunakan KLT-densitometri dan kemometrika melalui Principal Component Analysis (PCA) serta Hierarchical Cluster Analysis (HCA) pada MetaboAnalyst 6.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat hasil fermentasi SCOBY memiliki aktivitas antiinflamasi terbaik dengan nilai IC?? sebesar 62,02 ?g/mL. Analisis kemometrika menunjukkan adanya pemisahan profil metabolit antar kelompok sampel, terutama antara fraksi etil asetat dengan fraksi air dan hasil freeze-drying. Fraksi etil asetat juga menunjukkan intensitas metabolit yang lebih tinggi dan sejalan dengan aktivitas antiinflamasi yang lebih baik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variasi metode fermentasi dan jenis fraksi mempengaruhi profil metabolit serta kemampuan limbah daun teh dalam menghambat denaturasi protein.