Limbah teh masih mengandung senyawa bioaktif, terutama polifenol, flavonoid, tanin, dan katekin,
yang berpotensi dikembangkan sebagai agen antiinflamasi. Fermentasi limbah daun teh diduga
dapat memodifikasi profil metabolit sekundernya sehingga memengaruhi kemampuan sampel
dalam menghambat denaturasi protein yang berkaitan dengan proses inflamasi. Penelitian ini
bertujuan mengevaluasi pengaruh monofermentasi menggunakan Lactiplantibacillus plantarum,
kofermentasi L. plantarum dan Saccharomyces cerevisiae, serta fermentasi menggunakan SCOBY
terhadap aktivitas antiinflamasi dan profil metabolit limbah teh. Sampel hasil fermentasi dipisahkan
menjadi fraksi etil asetat, fraksi air, dan fraksi hasil freeze-drying. Aktivitas antiinflamasi diuji
menggunakan metode inhibisi denaturasi protein bovine serum albumin (BSA), sedangkan profil
metabolit dianalisis menggunakan KLT-densitometri dan kemometrika melalui Principal Component
Analysis (PCA) serta Hierarchical Cluster Analysis (HCA) pada MetaboAnalyst 6.0. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa fraksi etil asetat hasil fermentasi SCOBY memiliki aktivitas antiinflamasi terbaik
dengan nilai IC?? sebesar 62,02 ?g/mL. Analisis kemometrika menunjukkan adanya pemisahan profil
metabolit antar kelompok sampel, terutama antara fraksi etil asetat dengan fraksi air dan hasil
freeze-drying. Fraksi etil asetat juga menunjukkan intensitas metabolit yang lebih tinggi dan sejalan
dengan aktivitas antiinflamasi yang lebih baik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variasi metode
fermentasi dan jenis fraksi mempengaruhi profil metabolit serta kemampuan limbah daun teh
dalam menghambat denaturasi protein.
Perpustakaan Digital ITB