digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Emas merupakan salah satu instrumen investasi yang paling banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Kemajuan teknologi keuangan melahirkan instrumen baru berupa emas digital, yang kepemilikannya disimpan secara elektronik dan diperdagangkan melalui platform berlisensi. Penelitian ini menganalisis pengaruh price spread, convenience, dan risk perception terhadap probabilitas investor ritel Indonesia memilih emas digital dibandingkan emas konvensional. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring dari 124 investor ritel yang berdomisili di Indonesia dan memiliki pengalaman berinvestasi emas. Variabel dependen berupa pilihan instrumen utama responden, yaitu emas digital atau emas konvensional, yang dianalisis menggunakan regresi logistik biner pada ? = 0,05. Model yang dihasilkan menunjukkan kelayakan yang baik (Nagelkerke R2 = 0,426; uji Hosmer–Lemeshow Sig. = 0,450) dengan tingkat ketepatan klasifikasi keseluruhan sebesar 79,8%. Dari ketiga prediktor, price spread tidak berpengaruh signifikan terhadap pilihan instrumen. Convenience berpengaruh positif dan signifikan (Exp(B) = 6,228), sedangkan risk perception merupakan prediktor terkuat dengan pengaruh negatif dan signifikan (Exp(B) = 0,087). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pilihan instrumen tidak ditentukan oleh pertimbangan biaya, melainkan oleh kemudahan yang menarik investor ke arah emas digital, sementara persepsi risiko menariknya kembali ke arah emas konvensional. Temuan ini mengimplikasikan bahwa penyelenggara platform emas digital perlu memprioritaskan legalitas, keamanan penyimpanan, dan kredibilitas yang terlihat oleh pengguna, sementara regulator dapat memperkuat perlindungan konsumen dan edukasi pasar. Penelitian selanjutnya disarankan memodelkan kepercayaan sebagai konstruk tersendiri dan menggunakan cakupan sampel yang lebih luas. Kata kunci: emas digital, emas konvensional, spread harga, kemudahan, risiko yang dirasakan, regresi logistik biner, investor ritel