Emas merupakan salah satu instrumen investasi yang paling banyak dimiliki masyarakat
Indonesia. Kemajuan teknologi keuangan melahirkan instrumen baru berupa emas
digital, yang kepemilikannya disimpan secara elektronik dan diperdagangkan melalui
platform berlisensi. Penelitian ini menganalisis pengaruh price spread, convenience, dan
risk perception terhadap probabilitas investor ritel Indonesia memilih emas digital
dibandingkan emas konvensional. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring
dari 124 investor ritel yang berdomisili di Indonesia dan memiliki pengalaman
berinvestasi emas. Variabel dependen berupa pilihan instrumen utama responden, yaitu
emas digital atau emas konvensional, yang dianalisis menggunakan regresi logistik biner
pada ? = 0,05.
Model yang dihasilkan menunjukkan kelayakan yang baik (Nagelkerke R2 = 0,426; uji
Hosmer–Lemeshow Sig. = 0,450) dengan tingkat ketepatan klasifikasi keseluruhan
sebesar 79,8%. Dari ketiga prediktor, price spread tidak berpengaruh signifikan terhadap
pilihan instrumen. Convenience berpengaruh positif dan signifikan (Exp(B) = 6,228),
sedangkan risk perception merupakan prediktor terkuat dengan pengaruh negatif dan
signifikan (Exp(B) = 0,087). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pilihan instrumen tidak
ditentukan oleh pertimbangan biaya, melainkan oleh kemudahan yang menarik investor
ke arah emas digital, sementara persepsi risiko menariknya kembali ke arah emas
konvensional. Temuan ini mengimplikasikan bahwa penyelenggara platform emas digital
perlu memprioritaskan legalitas, keamanan penyimpanan, dan kredibilitas yang terlihat
oleh pengguna, sementara regulator dapat memperkuat perlindungan konsumen dan
edukasi pasar. Penelitian selanjutnya disarankan memodelkan kepercayaan sebagai
konstruk tersendiri dan menggunakan cakupan sampel yang lebih luas.
Kata kunci: emas digital, emas konvensional, spread harga, kemudahan, risiko yang
dirasakan, regresi logistik biner, investor ritel
Perpustakaan Digital ITB