digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak -Cielo Callista Novansa
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Pengaruh Metode Perendaman Lumpur dan Air Terhadap Sifat Mekanik Bambu Betung (Dendrocalamus asper). Dibimbing oleh Yoyo Suhaya dan Ihak Sumardi. Bambu betung (Dendrocalamus asper) merupakan material alami yang memiliki potensi tinggi sebagai bahan konstruksi karena memiliki sifat mekanik yang baik dan sebanding dengan kayu. Namun, bambu memiliki kelemahan berupa kerentanan terhadap serangan organisme perusak sehingga diperlukan proses pengawetan. Salah satu metode pengawetan tradisional yang umum digunakan adalah perendaman dalam air dan lumpur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode perendaman terhadap sifat mekanik bambu betung serta menentukan perlakuan perendaman yang menghasilkan sifat mekanik terbaik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol, rendam air, dan rendam lumpur selama 6 bulan. Sampel bambu dibedakan berdasarkan umur (muda dan tua) serta segmen batang (pangkal, tengah, dan ujung). Parameter yang diamati meliputi Modulus of Elasticity (MOE), Modulus of Rupture (MOR), dan kekuatan tarik sejajar serat. Data dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman tidak berpengaruh nyata terhadap nilai MOE (p = 0,154), MOR (p = 0,065), dan kekuatan tarik sejajar serat (p = 0,387). Nilai MOE bambu muda berada pada kisaran 5–11 GPa, sedangkan bambu tua mencapai 15–21 GPa. Nilai MOR bambu muda berkisar antara 40–90 MPa dan meningkat pada bambu tua hingga mencapai 170–220 MPa. Sementara itu, nilai kekuatan tarik berada pada kisaran 280–350 MPa. Faktor umur dan segmen batang memberikan pengaruh yang lebih nyata terhadap sifat mekanik bambu dibandingkan perlakuan perendaman. Bambu tua menunjukkan performa mekanik lebih tinggi dibandingkan bambu muda, sedangkan segmen tengah dan ujung memiliki sifat mekanik lebih baik dibandingkan segmen pangkal. Perlakuan rendam lumpur cenderung menghasilkan sifat mekanik yang lebih stabil dibandingkan rendam air karena kondisi anaerob diduga mampu mempertahankan integritas struktur lignoselulosa bambu.