digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan pesat pada partisipasi Generasi Z dalam investasi cryptocurrency di Indonesia berlangsung bersamaan dengan meningkatnya peran financial influencer, atau finfluencer, sebagai sumber utama informasi investasi di media sosial. Penelitian ini menguji pengaruh kredibilitas sumber finfluencer dan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap minat investasi cryptocurrency pada Generasi Z di Indonesia, serta apakah Digital Financial Literacy (DFL) memoderasi kedua hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan Source Credibility Theory, Social Comparison Theory, dan Theory of Planned Behavior untuk mengintegrasikan mekanisme informasional, emosional, dan kognitif dalam satu model. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif, dengan data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring yang disebarkan kepada responden berusia 18 hingga 29 tahun yang berdomisili di Indonesia, menggunakan media sosial, serta pernah melihat atau mengikuti konten cryptocurrency dari finfluencer. Sebanyak 198 responden valid dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kredibilitas sumber finfluencer berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat investasi cryptocurrency, dan FOMO juga berpengaruh positif dan signifikan dengan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan kredibilitas sumber. Sebaliknya, Digital Financial Literacy tidak memoderasi kedua hubungan tersebut dan juga tidak menunjukkan pengaruh langsung terhadap minat investasi. Model penelitian mampu menjelaskan 48,3 persen varians minat investasi dan memiliki daya prediksi yang tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa minat investasi Generasi Z lebih dibentuk oleh mekanisme emosional dan sosial dibandingkan evaluasi informasi, dan bahwa literasi keuangan digital yang dinilai sendiri oleh responden tidak melindungi investor muda dari kedua pengaruh tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi keuangan yang dirancang semata-mata sebagai transfer pengetahuan mungkin belum memadai untuk menjawab perilaku investasi yang didorong oleh emosi. Kata kunci: Finfluencer, Kredibilitas Sumber, Fear of Missing Out, Literasi Keuangan Digital, Minat Investasi Cryptocurrency, Generasi Z.