Tanah yang terkontaminasi minyak menimbulkan risiko lingkungan yang persisten akibat keberadaan Total Petroleum Hydrocarbon (TPH), terutama pada lokasi dengan aktivitas ekstraksi minyak mentah jangka panjang. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh metode remediasi, jenis washing liquid, serta konsentrasinya terhadap penyisihan TPH dari tanah terkontaminasi yang dikumpulkan dari Wonocolo, Bojonegoro, Jawa Timur. Tiga metode remediasi yang diamati meliputi soil washing, ultrasound, dan ultrasound-assisted soil washing (UASW). Air digunakan sebagai washing liquid kontrol, sedangkan NaOH, HCl, dan Na?SiO? diuji pada rentang konsentrasi 0,1–1,0 M, serta EDTA pada rentang konsentrasi 0,010,1 M. Percobaan dilakukan menggunakan 60 g tanah terkontaminasi dengan ukuran partikel ?2,00 mm, rasio cairan terhadap tanah sebesar 5:1, durasi pengolahan selama 60 menit, suhu 40°C, kecepatan pengadukan 150 rpm, dan frekuensi ultrasonik 28 kHz. Konsentrasi awal TPH berkisar antara 76493,33 hingga 79226,67 mg/kg. Metode UASW secara konsisten menghasilkan penyisihan TPH yang lebih tinggi dibandingkan soil washing dan ultrasound secara terpisah. NaOH dan Na?SiO? secara umum menunjukkan peningkatan kinerja seiring meningkatnya konsentrasi, sedangkan HCl dan EDTA menunjukkan tren penurunan. Efisiensi penyisihan TPH tertinggi secara keseluruhan diperoleh menggunakan 1,0 M Na?SiO? dengan nilai penyisihan sebesar 62,88%, sehingga menurunkan konsentrasi kontaminan menjadi 29112,50 mg/kg. Analisis GC-MS juga menunjukkan adanya penurunan jumlah puncak hidrokarbon yang terdeteksi serta penyempitan rentang jumlah rantai karbon setelah proses remediasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi antara pengadukan mekanis, kavitasi ultrasonik, dan sodium metasilikat dapat meningkatkan efektivitas penyisihan hidrokarbon minyak bumi dari tanah terkontaminasi minyak yang telah mengalami pelapukan.
Perpustakaan Digital ITB