Kerentanan patogen pascapanen dan dampak negatif pestisida sintetik membatasi kualitas
produksi tomat Solanum lycopersicum L. Penelitian ini mengevaluasi agen pelindung alternatif
bio-oil tembakau pada tomat hibrida Tymoti F1 dan nonhibrida Tora IPB. Rancangan Acak
Kelompok faktorial digunakan untuk menguji interaksi konsentrasi 4, 8, 12, dan 16 mL/L
dengan frekuensi penyemprotan setiap 3 dan 6 hari. Pengumpulan data meliputi kuantitas
panen serta pengujian fisik menggunakan jangka sorong, penetrometer, dan Chromameter.
Kandungan metabolit dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis, sementara ketahanan
pascapanen dievaluasi melalui inokulasi Colletotrichum sp. berkerapatan 106
spora/mL.
Interaksi perlakuan berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter kuantitas panen, dengan
produksi tertinggi pada Tymoti F1 melalui aplikasi 12 mL/L berinterval 3 hari yang mencapai
rata-rata 400 gram dan 13 buah per tanaman. Perlakuan tidak memengaruhi diameter, ketebalan
daging, maupun warna buah secara nyata, namun Tymoti F1 mampu mempertahankan
kekerasan jaringan secara lebih seragam dibandingkan Tora IPB. Kadar likopen dan betakaroten tidak terpengaruh, tetapi bio-oil memicu mekanisme pertahanan yang meningkatkan
vitamin C menjadi 28 hingga 31 ppm melampaui kelompok kontrol pada 24 hingga 25 ppm.
Pada uji daya simpan, dosis 8 hingga 16 mL/L secara nyata menekan keparahan penyakit pada
Tora IPB, sementara tingkat ketahanan Tymoti F1 cenderung mendatar karena kutikulanya
diduga lebih kuat menahan penetrasi pelarut. Efek perlindungan ini bersifat sementara karena
seluruh buah membusuk total pada 14 hari setelah inokulasi. Disimpulkan bahwa aplikasi 12
mL/L setiap 3 hari direkomendasikan untuk memaksimalkan kuantitas panen dan vitamin C
pada hibrida Tymoti F1, sedangkan kombinasi 12 mL/L setiap 6 hari optimal untuk
mempertahankan produktivitas, memacu vitamin C, serta menunda pembusukan pada
nonhibrida Tora IPB.
Perpustakaan Digital ITB