Limbah cair peternakan berpotensi menyebabkan eutrofikasi perairan sekaligus menyimpan potensi besar untuk pemulihan nutrien (nutrient recovery). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan mengoptimalkan pemulihan nutrien menjadi kristal struvite (?"MgNH" ?_4 ?"PO" ?_4?6"H" _2 "O" ) sebagai pupuk slow-release melalui metode elektrokoagulasi menggunakan anoda magnesium alloy AZ31B. Variabel operasional yang diuji meliputi jenis rangkaian elektroda (Monopolar Paralel [MP-P], Monopolar Seri [MP-S], dan Bipolar Seri [BP-S]), jenis katoda (stainless steel, AZ31B, dan grafit), serta jarak antarelektroda (1, 2, 3, dan 4 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rangkaian Monopolar Paralel (MP-P) merupakan konfigurasi terbaik karena menghasilkan kemurnian struvite tertinggi (31,49%) dan konsumsi energi paling hemat (31,71 Wh; efisiensi energi 612,33 mg/Wh) dibandingkan MP-S dan BP-S. Katoda stainless steel memberikan performa terbaik pada pengujian jenis katoda dengan kemurnian struvite 36,13%, penyisihan ortofosfat 94,77%, serta konsumsi energi terendah (14,61 Wh; 1.611,28 mg/Wh). Sementara itu, jarak antarelektroda 1 cm memberikan laju penyisihan ortofosfat awal tercepat dan konsumsi energi paling hemat (0,06 Wh; 1.681,42 mg/Wh) dengan penyisihan ortofosfat akhir 94,90%. Karakterisasi presipitat menggunakan FTIR mengonfirmasi keberadaan gugus fungsi khas struvite ("O-H/N-H" , "H-O-H" , "N-H" , dan ?"PO" ?_4^(3-)). Analisis SEM menunjukkan morfologi kristal prismatik memanjang berbentuk jarum (rod-needle-like) yang mengindikasikan presipitasi kimiawi murni. Analisis XRD mengonfirmasi struvite sebagai fasa kristalin tunggal dominan (kecocokan 100%) dengan derajat kristalinitas 86,6%. Kombinasi MP-P, katoda stainless steel, dan jarak 1 cm terbukti paling efisien dalam penyisihan nutrien dan pembentukan struvite dengan konsumsi energi minimal.
Perpustakaan Digital ITB