Sea breeze merupakan sirkulasi atmosfer skala meso yang berperan penting dalam
mempengaruhi kondisi cuaca lokal di wilayah pesisir, termasuk Jakarta. Penelitian
ini bertujuan mengidentifikasi Sea Breeze Days (SBD) secara kuantitatif melalui
pendekatan multi-instrumen, menganalisis karakteristik propagasi Sea Breeze
Front (SBF), serta hubungannya dengan aktivitas konvektif di wilayah selatan
Jakarta pada musim kemarau. Multi-instrumen yang digunakan meliputi Automatic
Weather Station (AWS) Tanjung Priok dan Halim Perdanakusuma, Wind Profiler
yang berada di Stasiun Meterologi Kelas I Soekarno-Hatta, citra satelit Himawari
9, serta produk Column Maximum Reflectivity (CMAX) radar cuaca C-Band yang
berada di Tangerang. Periode pengamatan mencakup Oktober 2023, Mei–Oktober
2024, dan Mei–Oktober 2025. Identifikasi SBD dilakukan menggunakan metode
pembobotan berdasarkan karakteristik angin permukaan, struktur vertikal sirkulasi,
dan propagasi cloudline. Kekuatan sea breeze direpresentasikan oleh ?V,
sedangkan kecepatan propagasi SBF dihitung berdasarkan perbedaan waktu onset
antara AWS Tanjung Priok dan AWS Halim.
Hasil penelitian mengidentifikasi 81 kejadian SBD dari 399 hari pengamatan. Data
Wind Profiler menunjukkan bahwa sirkulasi sea breeze berkembang hingga
ketinggian sekitar 1.023 m. Secara horizontal, Sea Breeze Front (SBF) terdeteksi
lebih dahulu di wilayah pesisir, dengan rata-rata onset pada pukul 09.12 WIB di
AWS Tanjung Priok, kemudian mencapai wilayah yang lebih jauh ke daratan pada
pukul 11.06 WIB di AWS Halim Perdanakusuma. Pola tersebut menunjukkan
propagasi SBF dari pesisir utara Jakarta menuju daratan dan wilayah selatan
Jakarta. Nilai ?V umumnya berada pada kisaran 2–5 m/s, sedangkan estimasi
kecepatan propagasi SBF didominasi kisaran 1–2 m/s, dimana nilai maksimum
terjadi di bulan Juli dan Agustus. Hubungan antara ?V dan kecepatan propagasi
SBF tergolong sangat lemah, dengan r=?0,137 dan R2=0,019, yang menunjukkan
bahwa kekuatan sea breeze tidak secara langsung menentukan kecepatan
pergerakan front menuju daratan.
Dari 81 kejadian SBD, sebanyak 77 kejadian bertepatan dengan terdeteksinya
aktivitas konvektif pada wilayah kajian, sedangkan empat kejadian lainnya
menunjukkan aktivitas yang lemah. Hubungan ?V dengan CMAX menghasilkan r=?0,145, sedangkan hubungan kecepatan propagasi SBF dengan CMAX
menghasilkan r=?0,019. Kedua hasil tersebut menunjukkan bahwa intensitas
aktivitas konvektif tidak memiliki hubungan linear yang kuat dengan kekuatan sea
breeze maupun kecepatan propagasi SBF. Dengan demikian, integrasi multi
instrumen memberikan gambaran yang saling melengkapi mengenai perkembangan
sea breeze, tetapi pertumbuhan konveksi di wilayah selatan Jakarta tetap
dipengaruhi oleh faktor atmosfer lain di luar dinamika sea breeze.
Perpustakaan Digital ITB