Klasifikasi Huruf Tersier (Tertiary Letter Stage) merupakan kerangka biozonasi yang luas digunakan untuk penentuan umur dan korelasi batuan karbonat di Indonesia. Namun, penerapannya pada tingkat regional sering kurang konsisten, karena penentuan zona disusun berdasarkan kumpulan taksa. Kemunculan dan kelimpahan foraminifera besar sangat dipengaruhi oleh fasies, perubahan lingkungan pengendapan, iklim, serta dinamika stratigrafi. Akibatnya, rentang suatu tahap dapat berbeda antar lokasi dan batas antar zona menjadi sulit ditetapkan, serta tidak selalu merepresentasikan waktu secara seragam. Di sisi lain, korelasi biozonasi foraminifera besar dengan biozonasi foraminifera planktonik dalam satu lintasan stratigrafi yang sama di Jawa Barat masih jarang dilakukan, padahal biozonasi planktonik yang terkalibrasi umur absolut dapat berperan sebagai kontrol kronostratigrafi yang lebih stabil. Selain itu, batuan karbonat Oligosen di Jawa Barat dan sekitarnya kaya akan foraminifera besar, tetapi kajian yang mendokumentasikan keanekaragaman taksa, sebaran stratigrafi, serta karakter morfologi dan biometri masih terbatas. Kondisi ini menyebabkan pola evolusi foraminifera besar dan potensinya untuk pendetailan Klasifikasi Huruf Tersier pada interval Oligosen belum dimanfaatkan secara optimal.
Penelitian ini bertujuan meningkatkan akurasi Klasifikasi Huruf Tersier pada interval Oligosen di Jawa Barat dan sekitarnya melalui integrasi informasi evolusi foraminifera besar berbasis morfologi–biometri dan korelasinya dengan biozonasi foraminifera planktonik. Penelitian dilakukan pada satuan karbonat berumur Oligosen yang tersingkap di Jawa Barat dan sekitarnya pada tujuh lintasan pengamatan, yaitu Cimanggu, Cihara, dan Karangsewu (Bayah), Cibadak dan Pelabuhan Ratu (Sukabumi), Tagogapu 1 dan Tagogapu 2 (Cikamuning–Padalarang). Metode analisis mencakup identifikasi foraminifera besar dan planktonik, inventarisasi keanekaragaman taksa dan sebaran stratigrafi, pengukuran parameter biometrik terpilih, serta evaluasi perubahan morfologi sepanjang kolom stratigrafi untuk merekonstruksi tren evolusi dan menilai implikasinya terhadap batas biozona.
Hasil analisis morfologi dan biometri memperlihatkan pola perubahan yang peramorfik pada garis keturunan dari beberapa taksa foraminifera besar. Garis keturunan Neorotalia mecatepecensis menunjukkan perubahan bertahap menuju kelompok Miogypsinidae hingga menghasilkan Miogypsinoides formosensis, dengan parameter AX (jumlah kamar tambahan) sebagai penanda penting untuk pemisahan tingkat genus, sedangkan parameter X (jumlah kamar nepionik spiral) efektif untuk pembedaan tingkat spesies. Selain itu, transisi dari Heterostegina (Vlerkina) borneensis menuju Tansinhokella dan kemudian Spiroclypeus dicirikan oleh perubahan morfologi dan peningkatan jumlah kamar lateral yang sederhana menjadi cubicula menuju lapisan yang paling muda, sehingga parameter ini menjadi indikator penting dalam interpretasi evolusi pada kelompok tersebut. Penelitian ini juga memperkaya pemahaman taksonomi melalui pengenalan morfotipe Neorotalia mecatepecensis A dan B serta pendeskripsian beberapa taksa baru, termasuk Paleomiogypsina tagogapuensis sp. nov., Paleomiogypsina rajamandalaensis sp. nov., Tansinhokella rajamandalaensis sp. nov., dan Tansinhokella tagogapuensis sp. nov berdasarkan parameter morfologi dan biometri.
Berdasarkan sebaran stratigrafi serta pola evolusi kelompok Miogypsinidae, disertasi ini mengusulkan pendetailan zona Te2–3 menjadi dua tahap terpisah, yaitu Te2 dan Te3 berdasarkan kemunculan awal Paleomiogypsina rajamandalaensis sp. nov. Hasil korelasi antar biozonasi menghasilkan urutan tahap Klasifikasi Huruf Oligosen yang dapat dikorelasikan secara langsung terhadap biozona foraminifera planktonik. Tahap Tc berkorelasi dengan Globigerina gortanii LOZ dan Globigerina sellii/Globigerina ampliapertura CRZ, mencerminkan Oligosen Awal. Tahap Td berkorelasi dengan Globigerina tapuriensis HOZ dan Globigerina selii PRZ. Tahap Te1 berkorelasi dengan Globigerina selii PRZ dan Globigerina angulisuturalis TRZ. Tahap Te2 tidak dapat dikorelasikan dengan zona planktonik karena keterbatasan data planktonik pada lintasan Pelabuhan Ratu dan Cibadak. Interval Te3 berkorelasi dengan Globigerinita unicava PRZ. Interval Te4 berkorelasi dengan Globigerinoides primordius LOZ dan Globigerina tripartita PRZ. Pendetailan tersebut meningkatkan resolusi korelasi Oligosen pada batuan karbonat Jawa Barat dan sekitarnya serta menyediakan kerangka biostratigrafi yang lebih teliti dan konsisten untuk penentuan umur dan korelasi stratigrafi regional.
Perpustakaan Digital ITB