digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Erosi pantai di pesisir Pekalongan telah mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir akibat kombinasi pengaruh gelombang, ketidakseimbangan sedimen, dan penurunan muka tanah yang mencapai sekitar 5,37 cm/tahun. Interaksi proses-proses tersebut menjadi tantangan utama dalam pengelolaan pesisir yang berkelanjutan karena mempercepat erosi, meningkatkan risiko banjir, serta mengurangi kinerja bangunan pelindung pantai. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi konfigurasi struktur permeabel yang paling optimal untuk mengurangi erosi pantai sekaligus meningkatkan sedimentasi melalui pemodelan numerik menggunakan Delft3D-Flow dan Delft3D-Wave yang dikopel. Empat konfigurasi struktur disimulasikan selama satu tahun, yaitu struktur lurus sepanjang 100 m, struktur lurus 200 m, struktur berbentuk T, dan struktur berpola selang-seling (staggered). Model hidrodinamika diverifikasi menggunakan data pengamatan lapangan dan menunjukkan kesesuaian yang baik, dengan nilai RMSE sebesar 0,12 m dan koefisien korelasi sebesar 0,76. Pada kondisi eksisting, model memprediksi laju degradasi dasar rata-rata sebesar 9,17 cm/tahun dan kemunduran garis pantai sebesar 3,85 m/tahun, yang sesuai dengan hasil observasi lapangan. Seluruh skenario struktur permeabel mampu mereduksi energi gelombang dan meningkatkan retensi sedimen dibandingkan kondisi eksisting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi berbentuk T memberikan kinerja terbaik dengan menurunkan laju degradasi dasar rata-rata menjadi 2,97 cm/tahun, atau berkurang sebesar 67,6%, serta meningkatkan elevasi dasar di belakang struktur sekitar 0,35 m setelah satu tahun. Hasil ini menunjukkan bahwa optimasi geometri struktur memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap retensi sedimen dan stabilisasi garis pantai dibandingkan hanya memperpanjang panjang struktur. Struktur permeabel berbentuk T yang diusulkan merupakan solusi Building with Nature yang efektif untuk mengurangi erosi pantai di pesisir Pekalongan.