Erosi pantai di pesisir Pekalongan telah mengalami peningkatan dalam beberapa dekade
terakhir akibat kombinasi pengaruh gelombang, ketidakseimbangan sedimen, dan
penurunan muka tanah yang mencapai sekitar 5,37 cm/tahun. Interaksi proses-proses
tersebut menjadi tantangan utama dalam pengelolaan pesisir yang berkelanjutan karena
mempercepat erosi, meningkatkan risiko banjir, serta mengurangi kinerja bangunan
pelindung pantai. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi konfigurasi struktur
permeabel yang paling optimal untuk mengurangi erosi pantai sekaligus meningkatkan
sedimentasi melalui pemodelan numerik menggunakan Delft3D-Flow dan Delft3D-Wave
yang dikopel. Empat konfigurasi struktur disimulasikan selama satu tahun, yaitu struktur
lurus sepanjang 100 m, struktur lurus 200 m, struktur berbentuk T, dan struktur berpola
selang-seling (staggered). Model hidrodinamika diverifikasi menggunakan data
pengamatan lapangan dan menunjukkan kesesuaian yang baik, dengan nilai RMSE
sebesar 0,12 m dan koefisien korelasi sebesar 0,76. Pada kondisi eksisting, model
memprediksi laju degradasi dasar rata-rata sebesar 9,17 cm/tahun dan kemunduran garis
pantai sebesar 3,85 m/tahun, yang sesuai dengan hasil observasi lapangan. Seluruh
skenario struktur permeabel mampu mereduksi energi gelombang dan meningkatkan
retensi sedimen dibandingkan kondisi eksisting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
konfigurasi berbentuk T memberikan kinerja terbaik dengan menurunkan laju degradasi
dasar rata-rata menjadi 2,97 cm/tahun, atau berkurang sebesar 67,6%, serta meningkatkan
elevasi dasar di belakang struktur sekitar 0,35 m setelah satu tahun. Hasil ini
menunjukkan bahwa optimasi geometri struktur memberikan pengaruh yang lebih besar
terhadap retensi sedimen dan stabilisasi garis pantai dibandingkan hanya memperpanjang
panjang struktur. Struktur permeabel berbentuk T yang diusulkan merupakan solusi
Building with Nature yang efektif untuk mengurangi erosi pantai di pesisir Pekalongan.
Perpustakaan Digital ITB