digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kegiatan penambangan dan pengolahan emas menghasilkan tailing yang berpotensi mengandung senyawa berbahaya bagi lingkungan, salah satunya sianida (CN?) yang digunakan dalam proses pelindian emas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh metode penimbunan tailing terhadap jarak sebaran kontaminan sianida pada zona tak jenuh di tambang emas Palu, Sulawesi Tengah, serta menentukan metode penimbunan tailing dengan tingkat risiko pencemaran airtanah paling rendah. Tiga metode penimbunan yang dianalisis meliputi landfill, backfill, dan dam tailing yang diatur dalam Permen LHK Nomor 6 Tahun 2021. Penelitian menggunakan pemodelan numerik dengan perangkat lunak MODFLOW-SURFACT. Pemodelan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah simulasi aliran airtanah kondisi steady state untuk kalibrasi model berdasarkan data muka airtanah hasil pengukuran lapangan. Hasil simulasi steady state digunakan sebagai kondisi awal (initial heads) pada simulasi transien transport kontaminan. Transport sianida dimodelkan menggunakan pendekatan adveksi–dispersi. Sumber kontaminan dimodelkan sebagai konsentrasi konstan dengan nilai yang diperoleh dari data uji TCLP tailing. Hasil simulasi menunjukkan bahwa metode penimbunan tailing memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola dan kedalaman migrasi kontaminan sianida. Pada skenario dam tailing, kontaminan sianida mampu bermigrasi hingga menembus lapisan pasir–konglomerat yang berperan sebagai akuifer, dengan kedalaman maksimum migrasi mencapai sekitar 150 m. Sementara itu, pada skenario landfill, kontaminan sianida hanya terdistribusi pada lapisan-lapisan atas dan tidak mampu menembus lapisan silt–clay.