Abstrak - Maylaf Syifa Aliyah
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Penentuan waktu pascakematian atau Post-Mortem Interval (PMI) menggunakan metode konvensional patologi forensik seperti rigor mortis, livor mortis, dan algor mortis hanya akurat dalam rentang 36–48 jam pascakematian, sehingga pendekatan entomologi forensik diperlukan untuk mengestimasi PMI pada fase dekomposisi lanjut berdasarkan pola suksesi serangga yang datang secara bertahap dan dapat diprediksi, dengan Diptera sebagai kolonisator primer dan penggerak awal suksesi, serta Coleoptera sebagai kolonisator sekunder pada fase dekomposisi lanjut. Namun, akurasi analisis entomologi forensik bergantung pada ketersediaan data dasar suksesi dan laju perkembangan serangga yang bersifat spesifik terhadap kondisi mikroklimat. Sehingga data dari satu wilayah tidak dapat digeneralisasi ke wilayah lain, termasuk lingkungan dak atap (rooftop) pada bangunan bertingkat yang kini masih minim dikaji meskipun penemuan jenazah di area tersebut bukan hal yang jarang terjadi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi serangga forensik, membangun model prediktif, serta mengevaluasi tingkat akurasi model kolonisasi serangga forensik berbasis Accumulated Degree Hours (ADH) pada karkas kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang mengalami dekomposisi di lingkungan dak atap. Tiga ekor kelinci didekapitasi kemudian dibiarkan mengalami dekomposisi selama 31 hari dan diamati pada pukul 07.00–19.00 WIB dengan interval dua jam, meliputi kelembapan, suhu, intensitas cahaya, tahapan dekomposisi karkas, dan perkembangan hidup serangga. Nilai ADH dihitung pada setiap interval pengamatan untuk menggambarkan akumulasi energi termal yang dibutuhkan serangga selama perkembangan, kemudian dimodelkan menggunakan regresi logistik dan dievaluasi menggunakan data dari ulangan karkas lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya satu spesies serangga forensik yang teramati, yaitu Lucilia sericata (Famili: Calliphoridae), sedangkan spesies dari ordo Coleoptera tidak ditemukan selama periode pengamatan. Hubungan antara akumulasi ADH dan waktu pascakematian berhasil dimodelkan melalui persamaan regresi logistik dengan nilai daya dukung 3.327,45 °C·jam, konstanta 9,73, laju pertumbuhan 0,00529 jam?¹, dan titik belok pada 430,28 jam, yang kemudian diinversikan untuk mengestimasi PMI berdasarkan nilai ADH kumulatif. Hasil evaluasi menunjukkan nilai R² 0,9915 dan RMSE 73,293 °C·jam, mengindikasikan model mampu menggambarkan hubungan ADH dan waktu pascakematian dengan baik, meskipun uji konsistensi menunjukkan estimasi akurat hanya pada rentang tahap dekomposisi bloating hingga skeletal dan kurang akurat pada nilai ADH <310,07 °C·jam.
Perpustakaan Digital ITB