digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Epi Rahayu
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Provinsi Kalimantan Tengah memiliki ekosistem gambut terluas di Indonesia sekaligus menghadapi tekanan deforestasi yang tinggi, dipengaruhi oleh sejarah Pengembangan Lahan Gambut (PLG) satu juta hektar serta kebijakan baru berupa program ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis dinamika perubahan tutupan lahan dan laju deforestasi secara spasio-temporal; (2) mengestimasi simpanan karbon dan kehilangan karbon (carbon loss) historis periode 1990–2020 berdasarkan variasi kerapatan vegetasi; serta (3) mengevaluasi carbon loss antar skenario kebijakan pada proyeksi tutupan lahan tahun 2030 dan 2040 serta implikasinya terhadap kebijakan pengelolaan hutan. Analisis perubahan tutupan lahan dilakukan dengan teknik overlay secara wall-to-wall data KLHK tahun 1990, 2000, 2011, dan 2020 untuk memperoleh matriks perubahan, neraca lahan (land account), dan laju deforestasi. Estimasi simpanan karbon menggunakan metode look-up table dengan nilai referensi studi terdahulu, yang dipadukan dengan klasifikasi kerapatan vegetasi berbasis ambang batas NDVI (>0,4 kategori rapat dan <0,4 kategori jarang) pada tutupan hutan, sedangkan carbon loss dihitung dengan pendekatan stock-change. Pemodelan tutupan lahan tahun 2030 dan 2040 dilakukan menggunakan Land Change Modeler dengan pendekatan Multi-Layer Perceptron dan CA-Markov, seleksi variabel pendorong berdasarkan nilai Cramer’s V (?0,15). Empat skenario kebijakan dikembangkan, yaitu Business as Usual (BAU), Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP), Peatland Protection (PLP), dan Protected Forest Area (PFA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 1990–2020 Provinsi Kalimantan Tengah kehilangan hutan alam seluas 3,87 juta hektar dengan penurunan terbesar pada hutan rawa sekunder. Laju deforestasi menurun dari 2,08%/tahun (1990–2000) menjadi 1,01%/tahun (2010–2020). Perubahan tersebut menurunkan simpanan karbon dari 2,30 Gt C (1990) menjadi 1,95 Gt C (2020), dengan total carbon loss mencapai 674,29 juta ton C atau setara 2,47 Gt ????????2????. Validasi model menunjukkan nilai Kappa sebesar 0,7574 (kategori kesepakatan kuat). Proyeksi menunjukkan bahwa skenario PFA menghasilkan carbon loss terendah (41% lebih rendah dibandingkan BAU), sedangkan skenario KSPP menghasilkan carbon loss lebih tinggi dibandingkan PFA dan PLP, mengindikasikan potensi konflik antara target ketahanan pangan dan komitmen mitigasi perubahan iklim. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pencapaian FOLU Net Sink 2030 di Kalimantan Tengah memerlukan pendekatan kebijakan terpadu yang mengintegrasikan perlindungan hutan, restorasi gambut, dan perencanaan tata ruang berbasis jasa ekosistem karbon.