Kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim meningkatkan energi gelombang yang mencapai
wilayah pesisir dan mengancam keberhasilan rehabilitasi mangrove karena bibit muda belum
mampu menahan hempasan gelombang besar. Kombinasi gabion dan pagar kayu menawarkan
perlindungan sementara yang menggabungkan efektivitas struktur keras dengan pendekatan
berbasis alam. Namun, kajian yang memodelkan kedua struktur sebagai satu sistem gabungan
masih terbatas, sementara sebagian besar studi hidrodinamika belum mempertimbangkan biaya
konstruksi yang menentukan kelayakan desain. Penelitian ini mengembangkan model matematika
berbasis Persamaan Air Dangkal (Shallow Water Equations, SWE) satu dimensi yang dimodifikasi
dengan suku gesekan dan penyesuaian batimetri untuk merepresentasikan interaksi gelombang
dengan lima blok kombinasi gabion dan pagar kayu pada tujuh subdomain. Model diselesaikan
secara analitik menggunakan metode separasi variabel untuk memperoleh koefisien transmisi
gelombang, serta secara numerik dengan metode volume hingga pada grid setengahan. Skema
numerik diverifikasi terhadap solusi analitik dan divalidasi menggunakan data eksperimen
trapezoidal breakwater dari Delft University of Technology serta data eksperimen wave flume
pada konfigurasi gabungan gabion dan pagar kayu dari Kasetsart University. Hasil verifikasi
menunjukkan metode volume hingga lebih akurat dan efisien dibandingkan metode beda hingga,
dengan RMSE sebesar 0,002 terhadap solusi analitik. Hasil verifikasi pada tiga struktur dengan
panjang dan koefisien gesekan yang sama menunjukkan bahwa blok gabion merupakan struktur
paling efektif mereduksi koefisien transmisi (Kt = 0,0741), diikuti struktur hybrid gabion–pagar
kayu (Kt = 0,0960) dan pagar kayu (Kt = 0,1151), dengan koefisien gesekan dan lebar struktur
sebagai parameter paling berpengaruh. Namun, perbandingan ini murni hidrolik dan belum
memperhitungkan faktor biaya: sebagai struktur keras (grey structure), biaya pembangunan
gabion relatif mahal dan bobotnya belum tentu sesuai untuk substrat pesisir berlumpur, sehingga
struktur hybrid diusulkan sebagai alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan meskipun
efektivitas peredamannya masih memerlukan kajian lanjutan. Model numerik tervalidasi
kemudian dipadukan dengan model biaya konstruksi dalam kerangka optimisasi hydro-economic
menggunakan algoritma Non-dominated Sorting Genetic Algorithm II (NSGA-II) untuk
meminimumkan koefisien transmisi dan biaya secara simultan. Pareto front yang dihasilkan
menunjukkan trade-off yang konsisten antara efektivitas peredaman dan biaya, dengan solusi knee-
point berupa susunan pagar kayu terdistribusi sebagai desain paling seimbang, sedangkan gabion
digunakan secara selektif ketika diperlukan tingkat peredaman yang lebih tinggi. Kerangka terpadu
ini memberikan kontribusi metodologis dalam pemodelan struktur pelindung pantai sekaligus
mendukung pengambilan keputusan untuk desain perlindungan pesisir yang efektif dan kompetitif
secara ekonomi.
Perpustakaan Digital ITB