Kepulauan Sumatra merupakan salah satu daerah dengan aktivitas tektonik paling aktif di
dunia. Kepulauan Sumatra berada pada sekitar pertemuan dua buah lempeng, yaitu lempeng benua
Eurasia dan lempeng samudra indoaustralia (zona subduksi), sehingga di Kepulauan tersebut sering
terjadi gempa. Pada tahun tanggal 12 September 2007 telah terjadi gempa besar dengan Magnitude
8.4 yang disusul dengan gempa magnitude 7.8 dan 7.1 pada keesokan harinya. Gempa tersebut telah
menelan ratusan korban jiwa, merusak infrastruktur yang ada.
Untuk meminimalkan dampak dari bencana alam gempa bumi, baik itu pada saat gempa
maupun setelah kejadian gempa, maka dirasa perlu untuk mempelajari mekanisme dari proses
kejadian gempa tersebut. Gempa bumi selalu terjadi secara berulang, diawali dengan kejadian
interseismik, coseismik dan kemudian postseismik. Pada setiap tahap kejadian gempa tersebut,
biasanya selalu diikuti dengan perubahan posisi yang disebut dengan proses deformasi.
Teknologi GPS dapat digunakan untuk mengamati setiap tahap kejadian gempa berdasarkan
perubahan posisi yang disebabkan oleh gempa tersebut. Tahapan postseismik, sebagai tahap pelepasan
energi gempa dapat terus dipantau berdasarkan perubahan posisinya untuk mempelajari gempa yang
terjadi secara labih detail. Dengan data yang cukup tahapan deformasi postseismik dapat dimodelkan
untuk selanjutnya dapat digunakan untuk memprediksi lama dari kejadian deformasi postseismik
tersebut pada area yang terkena dampak gempa. Sehingga besarnya perkiraan pergeseran pada suatu
waktu dan kapan perkiraan tahapan postseismik akan berakhir untuk selanjutnya gempa mengalami
perulangan kembali dapat diketahui.
Perpustakaan Digital ITB