digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB 1 Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

Kegiatan penambangan yang berasosiasi dengan mineral sulfida, khususnya pirit, berpotensi menghasilkan Air Asam Tambang (AAT) yang dampaknya dapat berlangsung hingga pascatambang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju oksidasi pirit berdasarkan mol besi dan sulfat total, laju reaksi penetralan berdasarkan mol kalsium, magnesium, natrium, dan kalium, serta mengestimasi waktu ketika material akan mencapai batas bawah potensi pembentukan dan penetralan Air Asam Tambang (< 0,1 gram mineral) berdasarkan pemodelan geokimia. Penelitian menggunakan data sekunder 16 sampel batuan berupa uji statik (Total Sulfur dan Acid Neutralizing Capacity), uji kinetik Free Draining Column Leach Test (FDCLT), dan uji komposisi unsur XRF. Laju oksidasi dihitung dari mol besi dan sulfat total terlarut per satuan luas permukaan butir dan waktu, sedangkan laju penetralan dihitung dengan pendekatan serupa dari mol kalsium, magnesium, natrium, dan kalium hasil reaksi mineral karbonat dengan asam sulfat. Estimasi waktu ketika material akan mencapai batas bawah potensi pembentukan Air Asam Tambang (< 0,1 gram mineral) dilakukan melalui pemodelan peluruhan eksponensial orde satu, membandingkan massa mineral dari uji statik terhadap laju reaksi aktual dari uji kinetik. Laju oksidasi berdasarkan Fe berkisar 2,68×10-16 hingga 5,72×10-10 mol/m²s, sedangkan berdasarkan SO4 2- berkisar 3,16×10-14 hingga 7,63×10-9 mol/m²s dan dinilai lebih representatif karena sebagian besar Fe hasil oksidasi pirit mengendap sebagai mineral sekunder pada kondisi pH netral hingga basa. Laju penetralan berdasarkan Ca, Mg, Na, dan K secara konsisten jauh lebih besar dibandingkan laju oksidasi pirit pada seluruh sampel. Estimasi waktu peluruhan menunjukkan variasi yang sangat besar antar sampel, dengan waktu peluruhan berdasarkan Fe tercepat pada litologi Diorite (1.725,92 tahun) dan paling lambat pada litologi Tonalite/Young Tonalite (1.111.694,72 tahun), sedangkan waktu peluruhan berdasarkan alkali total jauh lebih singkat (35,53–289,65 tahun) dibandingkan Fe dan SO4 2-, mengindikasikan bahwa kapasitas penetralan akan habis terlebih dahulu sebelum oksidasi pirit berhenti sepenuhnya. Litologi Diorite secara konsisten menunjukkan waktu peluruhan tercepat pada seluruh parameter, sejalan dengan karakteristik ANC yang rendah pada litologi tersebut, sehingga litologi ini perlu menjadi perhatian utama dalam strategi pengelolaan AAT jangka panjang.