BAB 1 Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Putra Nusa Adithia Hutauruk
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Kegiatan penambangan yang berasosiasi dengan mineral sulfida, khususnya pirit, berpotensi
menghasilkan Air Asam Tambang (AAT) yang dampaknya dapat berlangsung hingga
pascatambang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju oksidasi pirit berdasarkan mol
besi dan sulfat total, laju reaksi penetralan berdasarkan mol kalsium, magnesium, natrium, dan
kalium, serta mengestimasi waktu ketika material akan mencapai batas bawah potensi
pembentukan dan penetralan Air Asam Tambang (< 0,1 gram mineral) berdasarkan pemodelan
geokimia.
Penelitian menggunakan data sekunder 16 sampel batuan berupa uji statik (Total Sulfur dan
Acid Neutralizing Capacity), uji kinetik Free Draining Column Leach Test (FDCLT), dan uji
komposisi unsur XRF. Laju oksidasi dihitung dari mol besi dan sulfat total terlarut per satuan
luas permukaan butir dan waktu, sedangkan laju penetralan dihitung dengan pendekatan serupa
dari mol kalsium, magnesium, natrium, dan kalium hasil reaksi mineral karbonat dengan asam
sulfat. Estimasi waktu ketika material akan mencapai batas bawah potensi pembentukan Air
Asam Tambang (< 0,1 gram mineral) dilakukan melalui pemodelan peluruhan eksponensial
orde satu, membandingkan massa mineral dari uji statik terhadap laju reaksi aktual dari uji
kinetik.
Laju oksidasi berdasarkan Fe berkisar 2,68×10-16 hingga 5,72×10-10 mol/m²s, sedangkan
berdasarkan SO4
2- berkisar 3,16×10-14 hingga 7,63×10-9 mol/m²s dan dinilai lebih representatif
karena sebagian besar Fe hasil oksidasi pirit mengendap sebagai mineral sekunder pada kondisi
pH netral hingga basa. Laju penetralan berdasarkan Ca, Mg, Na, dan K secara konsisten jauh
lebih besar dibandingkan laju oksidasi pirit pada seluruh sampel. Estimasi waktu peluruhan
menunjukkan variasi yang sangat besar antar sampel, dengan waktu peluruhan berdasarkan Fe
tercepat pada litologi Diorite (1.725,92 tahun) dan paling lambat pada litologi Tonalite/Young
Tonalite (1.111.694,72 tahun), sedangkan waktu peluruhan berdasarkan alkali total jauh lebih
singkat (35,53–289,65 tahun) dibandingkan Fe dan SO4
2-, mengindikasikan bahwa kapasitas
penetralan akan habis terlebih dahulu sebelum oksidasi pirit berhenti sepenuhnya. Litologi
Diorite secara konsisten menunjukkan waktu peluruhan tercepat pada seluruh parameter,
sejalan dengan karakteristik ANC yang rendah pada litologi tersebut, sehingga litologi ini perlu
menjadi perhatian utama dalam strategi pengelolaan AAT jangka panjang.
Perpustakaan Digital ITB