BAB 1 - Febri Ilham Ardiansyah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 - Febri Ilham Ardiansyah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - Febri Ilham Ardiansyah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - Febri Ilham Ardiansyah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - Febri Ilham Ardiansyah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - Febri Ilham Ardiansyah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Pengolahan bijih tembaga jalur hidrometalurgi umumnya melalui 3 proses utama
yakni leaching-solvent extraction-electrowinning. Pada proses solvent extraction,
larutan sisa nantinya akan digunakan sebagai campuran larutan pelindian. Akan
tetapi, apabila digunakan secara terus-menerus hal tersebut akan menyebabkan
pengotor terkumpul secara kumulatif sehingga kurang efisien jika diumpankan
kembali sebagai larutan pelindian. Oleh karena itu, larutan tersebut harus dilakukan
pemisahan atau pemanfaatan kembali agar bisa diumpankan kembali atau menjadi
produk bernilai tambah dibandingkan menjadi limbah karena rafinat tersebut jika
disimpan akan membutuhkan tempat yang cukup luas. Rafinat hasil proses ekstraksi
pelarut tersebut umumnya memiliki kandungan Cu, Fe serta sejumlah unsur lain
seperti Al, Pb, dan Zn yang berpotensi diambil kembali melalui proses presipitasi.
Percobaan diawali dengan mengkarakterisasi sampel awal menggunakan AAS,
kemudian rafinat dioksidasi menggunakan H2O2 serta dilakukan pengadukan agar
homogen. Percobaan presipitasi ini menggunakan CaO sebagai agen netralisasi
yang diencerkan dengan perbandingan 70% air dislitasi dan 30% padatan sehingga
terbentuklah kalsium hidroksida. Setelah itu, ditambahkan larutan tersebut ke dalam
rafinat sampai pH yang diinginkan. Kemudian dilakukan penahanan sesuai waktu
yang diinginkan. Kemudian difiltrasi sehingga didapatkan larutan filtrat, washing,
dan residu yang bisa dikarakterisasi untuk mendapatkan persen presipitasinya.
Percobaan pendahuluan dilakukan pada pH 1 sedangkan variasinya dilakukan pada
pH 2, 3, 4, dan 5. Selain itu, dilakukan juga variasi temperatur pada 25, 50, 70, dan
90 oC dan variasi waktu penahanan pada 15, 30, 60, 90, dan 120 menit.
Dari percobaan pendahuluan, persen presipitasi Fe cenderung stagnan di sekitar
80%, kemudian peningkatan pH juga menghasilkan hal yang serupa dengan Fe dan
logam lain meningkat. Dari variasi temperatur terdapat peningkatan persen
presipitasi Fe sekitar 10% dan juga logam lain, sedangkan variasi waktu penahanan
tidak begitu mempengaruhi persen presipitasi dari Fe. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa kondisi optimum pemisahan berada pada pH 2, temperatur
25oC, dan waktu penahanan 30 menit dengan persen presipitasi Fe sebesar 80,84%;
Pb 68,21%; Zn 27,66%; 19,66; dan Al 90,55% dengan unsur dominan yakni jarosit.
Perpustakaan Digital ITB