Lapangan Panas Bumi Sipoholon merupakan sistem panas bumi nonvulkanik yang berkembang pada lingkungan tektonik aktif. Model konseptual yang telah diusulkan sebelumnya masih menyisakan ketidakpastian mengenai hubungan antar manifestasi dan konektivitas sistem fluida sehingga diperlukan evaluasi berdasarkan interpretasi struktur bawah permukaan. Penelitian ini bertujuan memetakan struktur bawah permukaan, mengidentifikasi indikasi zona permeabel melalui integrasi data gravitasi dan geokimia tanah, serta mengevaluasi implikasinya terhadap model konseptual Sistem Panas Bumi Sipoholon. Data anomali Bouguer lengkap diproses melalui pemisahan anomali regional dan residual. Anomali residual dianalisis menggunakan Horizontal Gradient Magnitude (HGM) dan Tilt Angle of the Horizontal Gradient (TAHG), sedangkan Euler deconvolution diterapkan pada anomali Bouguer lengkap untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan dan memperkirakan kedalaman sumber anomali. Hasil interpretasi kemudian diintegrasikan dengan distribusi konsentrasi CO? tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur bawah permukaan di sekitar manifestasi Sipoholon, Lehu, Hutabarat, dan Panabungan dicirikan oleh keberimpitan puncak HGM, nilai maksimum TAHG, dan klaster solusi Euler deconvolution yang konsisten dengan struktur geologi yang telah dipetakan sebelumnya, termasuk mengonfirmasi kemenerusan sesar Panabungan hingga bawah permukaan. Selain itu, anomali CO? tanah >2,3% di utara Sipoholon diinterpretasikan sebagai jalur migrasi CO? tanpa bukti yang memadai mengenai keberadaan struktur utama. Integrasi data gravitasi dan geokimia tanah menunjukkan bahwa zona Sipoholon–Lehu memiliki tingkat keyakinan tertinggi sebagai jalur migrasi fluida dan zona permeabel, diikuti oleh Hutabarat dan Panabungan. Hasil penelitian menunjukkan kesinambungan sistem fluida pada manifestasi di dalam Graben Tarutung, namun tidak menemukan bukti yang mendukung konektivitas fluida dangkal antara sistem Sipoholon–Lehu yang berkembang mengikuti Sesar Besar Sumatera dan sistem Panabungan di sisi timur Graben Tarutung. Temuan ini memberikan dasar untuk mengevaluasi model konseptual Sistem Panas Bumi Sipoholon, khususnya terkait konektivitas sistem fluida dan distribusi jalur migrasi fluida.
Perpustakaan Digital ITB