Fenomena penuaan penduduk (aging population) di Kota Bandung menuntut
penyediaan infrastruktur perkotaan yang inklusif untuk mencegah kerentanan
mobilitas (transport disadvantage) dan eksklusi sosial, serta menjadi prasyarat
utama dalam mewujudkan Kota Ramah Lansia (Age-Friendly City). Penelitian ini
bertujuan menyusun dan mengukur Indeks Aksesibilitas Lansia di Kota Bandung
menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods). Pemodelan spasial
Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) berbasis Sistem Informasi Geografis
(SIG) diterapkan pada unit grid mikro (250 × 250 meter) untuk mengevaluasi
tingkat keterjangkauan fasilitas dasar, ruang terbuka publik, dan prasarana
transportasi. Parameter yang digunakan mencakup radius jangkauan, hambatan
topografi (slope), dan konektivitas hierarki jaringan jalan. Hasil model ini
kemudian diintegrasikan dengan kepadatan populasi lansia melalui analisis
Bivariate Choropleth guna mengidentifikasi ketimpangan spasial (spatial
mismatch).
Hasil analisis menunjukkan bahwa hampir separuh wilayah Kota Bandung (47,8%)
berada pada kategori aksesibilitas cukup, dengan ketersediaan ruang terbuka publik
menempati posisi terendah. Ditemukan fenomena spatial mismatch yang sistemik,
di mana kantong permukiman padat lansia di wilayah selatan dan timur kota justru
menerima pelayanan infrastruktur paling minim. Lebih lanjut, triangulasi data
melalui observasi lapangan di 47 titik amatan (gap analysis) membuktikan bahwa
kedekatan jarak spasial tidak menjamin kelayakan fisik; banyak kawasan dengan
skor jangkauan tinggi memiliki kondisi fasilitas pejalan kaki dan halte yang buruk
serta berisiko bagi keselamatan lansia. Merespons temuan tersebut, penelitian ini
merumuskan arahan prioritas intervensi tata ruang berbasis kelurahan yang
difokuskan pada dua arah utama: (1) perbaikan kualitas infrastruktur eksisting di
kawasan pusat kota melalui tactical urbanism, sterilisasi trotoar, dan penyesuaian
desain universal (kelandaian ramp dan traffic calming); serta (2) penyelesaian
spatial mismatch di kawasan pinggiran melalui pembangunan complete streets,
pengadaan rute angkutan feeder, dan pengikatan regulasi ramah lansia dalam
RDTR. Rekomendasi terstruktur ini menjadi landasan strategis bagi pemerintahii
daerah dalam mempercepat perwujudan Kota Ramah Lansia yang aman, mandiri,
dan mendukung penuaan aktif (active aging)
Perpustakaan Digital ITB