digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Fenomena penuaan penduduk (aging population) di Kota Bandung menuntut penyediaan infrastruktur perkotaan yang inklusif untuk mencegah kerentanan mobilitas (transport disadvantage) dan eksklusi sosial, serta menjadi prasyarat utama dalam mewujudkan Kota Ramah Lansia (Age-Friendly City). Penelitian ini bertujuan menyusun dan mengukur Indeks Aksesibilitas Lansia di Kota Bandung menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods). Pemodelan spasial Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) diterapkan pada unit grid mikro (250 × 250 meter) untuk mengevaluasi tingkat keterjangkauan fasilitas dasar, ruang terbuka publik, dan prasarana transportasi. Parameter yang digunakan mencakup radius jangkauan, hambatan topografi (slope), dan konektivitas hierarki jaringan jalan. Hasil model ini kemudian diintegrasikan dengan kepadatan populasi lansia melalui analisis Bivariate Choropleth guna mengidentifikasi ketimpangan spasial (spatial mismatch). Hasil analisis menunjukkan bahwa hampir separuh wilayah Kota Bandung (47,8%) berada pada kategori aksesibilitas cukup, dengan ketersediaan ruang terbuka publik menempati posisi terendah. Ditemukan fenomena spatial mismatch yang sistemik, di mana kantong permukiman padat lansia di wilayah selatan dan timur kota justru menerima pelayanan infrastruktur paling minim. Lebih lanjut, triangulasi data melalui observasi lapangan di 47 titik amatan (gap analysis) membuktikan bahwa kedekatan jarak spasial tidak menjamin kelayakan fisik; banyak kawasan dengan skor jangkauan tinggi memiliki kondisi fasilitas pejalan kaki dan halte yang buruk serta berisiko bagi keselamatan lansia. Merespons temuan tersebut, penelitian ini merumuskan arahan prioritas intervensi tata ruang berbasis kelurahan yang difokuskan pada dua arah utama: (1) perbaikan kualitas infrastruktur eksisting di kawasan pusat kota melalui tactical urbanism, sterilisasi trotoar, dan penyesuaian desain universal (kelandaian ramp dan traffic calming); serta (2) penyelesaian spatial mismatch di kawasan pinggiran melalui pembangunan complete streets, pengadaan rute angkutan feeder, dan pengikatan regulasi ramah lansia dalam RDTR. Rekomendasi terstruktur ini menjadi landasan strategis bagi pemerintahii daerah dalam mempercepat perwujudan Kota Ramah Lansia yang aman, mandiri, dan mendukung penuaan aktif (active aging)