digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Dzaky Mu’ammar El Fauzi
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Perairan utara Jawa Timur, Madura, hingga Kangean merupakan kawasan produksi minyak dan gas bumi lepas pantai terpadat di Indonesia sekaligus bagian dari wilayah kerja SKK Migas Jabanusa yang pada tahun 2025 memasok sekitar 24% produksi minyak dan 10% produksi gas nasional. Meskipun demikian, Indonesia belum memiliki standar perancangan struktur lepas pantai tahan gempa. Peta ISO 19901-2:2004 berinterval kontur sangat lebar (0,25 g dan 0,1 g untuk periode osilator 0,2 dan 1,0 detik) serta tanpa koordinat yang memadai, sementara peta bahaya gempa nasional berfokus pada daratan. Penelitian ini menghasilkan peta bahaya gempa pada batuan dasar dengan periode ulang 1000 tahun dan peta zona seismik situs menurut prosedur ISO 19901-2:2004 untuk wilayah 112,4–115,9° BT dan 5,9–8,0° LS yang ditetapkan berdasarkan irisan wilayah kerja migas. Analisis dilakukan dengan metode Probabilistic Seismic Hazard Analysis menggunakan perangkat lunak USGS PSHA. Model sumber gempa mencakup 88 segmen sesar aktif, 4 segmen subduksi Jawa, serta latar belakang yang tersebar dalam 6 selang kedalaman hingga radius 500 km, dengan seluruh parameter dan pembobotan logic tree mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. Kurva bahaya di lima titik tinjau memberikan PGA batuan dasar periode ulang 1000 tahun 0,091–0,314 g. Validasi terhadap peta acuan pada periode ulang 2500 tahun memberikan rata-rata perbedaan gabungan 8,21% (PGA 10,95%; 0,2 detik 9,33%; 1,0 detik 4,33%), sehingga hasil dinyatakan cukup valid. Reklasifikasi percepatan spektra 1,0 detik menurut lima kelas ISO (batas 0,03 g, 0,10 g, 0,25 g, dan 0,45 g) membagi wilayah studi menjadi tiga zona seismik, yaitu zona 1 di Laut Jawa bagian utara, zona 2 yang mendominasi wilayah studi, dan zona 3 pada jalur sesar naik busur belakang Jawa di sisi selatan serta jalur sempit di Kepulauan Kangean yang dikendalikan oleh segmen sesar Kangean-Sakala. Peta ini memadai untuk seluruh struktur berpaparan L3 dan struktur L2 di zona 1 dan 2, sedangkan untuk struktur L2 di zona 3 dan seluruh struktur L1 di zona 2 dan 3 diperlukan kajian spesifik situs sehingga peta hanya dipakai pada tahap penilaian awal.