digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Koagulasi merupakan salah satu metode pengolahan limbah cair yang efektif dan dan sederhana, namun koagulan sintetik dan alami memiliki kelemahannya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk menyintesis dan mengkaji performa koagulan magnetik berbasis nanopartikel Fe?O? yang difungsionalisasi dengan APTES dan glutaraldehida, kemudian dimodifikasi menggunakan protein ekstrak biji Moringa oleifera, dalam menyisihkan zat warna anionik Congo red. Penelitian dilakukan dengan variasi dosis glutaraldehida pada tahap sintesis, serta variasi pH dan dosis koagulan pada uji kinerja koagulasi menggunakan larutan Congo red. Hasil FTIR mengonfirmasi keberhasilan fungsionalisasi APTES, glutaraldehida, serta protein melalui munculnya serapan baru pada gugus C–H, N–H, dan Si–O–Si. Hasil SEM mengonfirmasi adanya pertambahan ukuran setelah fungsionalisasi serta koagulasi-regenerasi, sementara hasil TEM mengonfirmasi adanya lapisan hasil fungsionalisasi pada permukaan Fe?O?. Karakterisasi XRD menunjukkan struktur spinel kubik magnetit tetap dipertahankan setelah modifikasi protein, dengan tingkat kristalinitas sebesar 73% (Fe?O?) dan 72% (Fe?O?-Protein) serta ukuran kristalit masing-masing 63,80 nm dan 77,74 nm berdasarkan metode Williamson– Hall. Kondisi sintesis optimum diperoleh pada dosis glutaraldehida 1% (v/v) dengan kapasitas adsorpsi protein sebesar 18,17%, sedangkan kondisi koagulasi optimum diperoleh pada pH 3 dan dosis koagulan 2,8 mg/mL dengan efisiensi penyisihan zat warna anionik Congo red sebesar 94,49%. Tingginya efisiensi penyisihan dikaitkan dengan mekanisme netralisasi muatan melalui interaksi elektrostatik antara protein Moringa oleifera yang bermuatan positif dan Congo red yang bermuatan negatif, sedangkan pemodelan kinetika empiris menunjukkan bahwa model Pseudo Second Order (PSO) memberikan kesesuaian terbaik terhadap data koagulasi berdasarkan nilai adjusted R² tertinggi dan reduced chi-square terendah. Uji regenerasi menunjukkan efisiensi penyisihan yang stabil di atas 90% hingga siklus ke-4 sebelum menurun tajam akibat akumulasi zat warna yang tidak terdesorpsi sempurna serta lapisan protein pada permukaan koagulan yang terdegradasi.