BAB 1 Ivander Christian G S
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Ivander Christian G S
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Ivander Christian G S
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Ivander Christian G S
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Ivander Christian G S
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA Ivander Christian G S
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Vanadium merupakan logam strategis yang banyak digunakan sebagai unsur pemadu pada baja
paduan rendah berkekuatan tinggi (high-strength low-alloy, HSLA) serta sebagai komponen
aktif elektrolit pada baterai aliran redoks vanadium (vanadium redox flow battery, VRFB)
untuk penyimpanan energi. Peningkatan kebutuhan vanadium mendorong pengembangan
sumber alternatif selain sumber primer. Red mud, yang merupakan residu padat proses Bayer
pada produksi alumina, berpotensi menjadi salah satu sumber sekunder vanadium karena
dihasilkan dalam jumlah besar dan masih mengandung sejumlah logam bernilai.
Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum pelindian vanadium dari red mud
menggunakan larutan HCl, mengevaluasi pengaruh parameter pelindian, serta mempelajari
kinetika pelindiannya. Percobaan pelindian dirancang menggunakan orthogonal array Taguchi
L16 dengan empat faktor pada empat level, yaitu konsentrasi HCl sebesar 2, 4, 6, dan 8 M;
temperatur 40, 60, 80, dan 100 °C; waktu pelindian 60, 90, 120, dan 180 menit; serta rasio
cairan terhadap padatan (L/S) sebesar 3, 5, 7, dan 9 mL/g. Pengaruh masing-masing parameter
terhadap ekstraksi vanadium dievaluasi menggunakan metode Taguchi dan analisis varians
(ANOVA). Percobaan untuk studi kinetika selanjutnya dilakukan dengan mempertahankan
konsentrasi HCl dan rasio L/S pada kondisi terpilih, sedangkan temperatur divariasikan pada
40, 60, 80, dan 100 °C dan sampel larutan diambil secara periodik. Konsentrasi logam dalam
larutan hasil pelindian dianalisis menggunakan inductively coupled plasma–mass spectrometry
(ICP-MS) dan atomic absorption spectroscopy (AAS). Data kinetika dianalisis menggunakan
shrinking core model (SCM) dan Persamaan Arrhenius untuk menentukan energi aktivasi
proses pelindian.
Hasil analisis Taguchi menunjukkan bahwa kondisi optimum pelindian vanadium diperoleh
pada konsentrasi HCl 8 M, temperatur 80 °C, waktu pelindian 60 menit, dan rasio L/S 7 mL/g,
dengan ekstraksi vanadium sebesar 97,8%. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa rasio L/S
memberikan pengaruh paling signifikan terhadap ekstraksi vanadium dengan kontribusi
sebesar 57,28%. Analisis kinetika pelindian pada temperatur 40–100 °C menunjukkan bahwa
pelindian vanadium dari red mud paling sesuai dengan shrinking core model dengan
pengendali laju berupa difusi melalui film fluida di permukaan partikel (external film). Energi
aktivasi pelindian yang diperoleh sebesar 4,41 kJ/mol, yang termasuk tipikal rentang energi
aktivasi untuk pelindian yang terkendali oleh perpindahan massa melalui difusi.
Perpustakaan Digital ITB