digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Whendy Margareta
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Operasi pengisian bahan bakar kapal (bunkering) menyumbang porsi besar pada biaya operasional pelayaran, sehingga kegagalan pasokan, keterlambatan layanan, maupun stok berlebih berdampak langsung pada total biaya logistik maritim. Penelitian ini mengkaji operasi bunkering Low Sulphur Fuel Oil 180 (LSFO 180) Perusahaan X di Pelabuhan Tanjung Priok, sebuah sistem dengan pola permintaan intermittent dan waktu antar-kedatangan yang tidak terdistribusi merata. Permasalahan dirumuskan sebagai Maritime Inventory Routing Problem (MIRP) yang secara simultan menetapkan kebijakan persediaan tangki darat, pemilihan moda bunkering Port-to-Ship (PTS) atau Ship-to-Ship (STS), alokasi dermaga, dan penjadwalan rute Bunker Vessel. Dua kebijakan persediaan dievaluasi melalui dua model Mixed Integer Linear Programming (MILP) yaitu Model (s,S) dengan tinjauan kontinu (s,S) dan Model (R,S) dengan tinjauan periodik (R,S), masing-masing memuat 39 kelompok kendala. Penyelesaian dilakukan dengan matheuristik hybrid MILP-ALNS yang mendekomposisi subproblem routing ke Adaptive Large Neighborhood Search dan subproblem persediaan ke MILP, dilengkapi validasi solusi diukur melalui optimality gap terhadap solusi optimal MILP serta parameterisasi algoritma melalui orthogonal array Taguchi L27. Model diuji pada 30 instance terstratifikasi ke kategori permintaan High, Normal, dan Low dengan horizon 120 hari. Pada horizon 120 hari, hybrid MILP-ALNS memperbaiki solusi warmstart Model (s,S) rata-rata 30,28% (Low), 87,10% (Normal), dan 86,68% (High), dengan fill rate 100% tercapai pada 28 dari 30 instance dan waktu komputasi 1,6 – 145,4 detik, dibandingkan MILP murni yang mencapai 4.611 detik tanpa memenuhi target gap. Model (s,S) menghasilkan biaya total lebih rendah pada kategori Low dan Normal, sedangkan Model (R,S) lebih cepat secara komputasi dan kompetitif pada horizon pendek. Kebijakan (s,S) dengan pendekatan hybrid direkomendasikan untuk horizon perencanaan ? 60 hari dengan pola permintaan intermittent, sementara (R,S) tetap relevan untuk horizon pendek yang membutuhkan prediktabilitas jadwal pemesanan.