digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kemajuan teknologi finansial telah menurunkan hambatan bagi investor ritel Indonesia untuk mengakses pasar ekuitas internasional. Amerika Serikat, sebagai pasar berkembang dengan likuiditas yang dalam dan profil imbal hasil yang secara historis unggul, menghadirkan peluang bagi investor ritel Indonesia untuk melakukan diversifikasi di luar pasar domestik. Kondisi ini membuka peluang untuk mengkaji apakah diversifikasi lintas negara dapat meningkatkan kinerja portofolio. Penelitian ini menerapkan kerangka Modern Portfolio Theory (MPT) untuk membentuk portofolio optimal yang mengombinasikan tiga saham dengan kapitalisasi pasar terbesar dari IDX30 (BBCA, TLKM, dan ASII) serta S&P 500 (NVDA, GOOGL, dan AMZN), bersama tiga ETF ekuitas Amerika Serikat (SPY, QQQ, dan IWM), menggunakan data mingguan periode 2021–2025 yang telah dikonversi ke dalam Rupiah Indonesia. Pada tujuan memaksimalkan return, portofolio mengombinasikan aset Indonesia dan Amerika Serikat. Sementara itu, pada tujuan meminimalkan risiko dan memaksimalkan rasio Sharpe, portofolio dialokasikan sepenuhnya ke ekuitas Amerika Serikat. Optimisasi portofolio internasional paling terlihat pada portofolio dengan tujuan memaksimalkan return. Ketiga portofolio yang dioptimalkan mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sebagaimana diukur menggunakan Sharpe ratio. Bagi investor yang berfokus pada kinerja yang disesuaikan dengan risiko, portofolio dengan tujuan memaksimalkan rasio Sharpe merupakan pilihan yang paling sesuai karena memberikan tingkat return tertinggi untuk setiap tingkat risiko yang ditanggung. Kata kunci: Optimisasi Portofolio Internasional, Modern Portfolio Theory, Diversifikasi Lintas Negara, Pasar Ekuitas Indonesia, Pasar Ekuitas Amerika Serikat, Rasio Sharpe, IDX30, S&P 500, ETF