Kemajuan teknologi finansial telah menurunkan hambatan bagi investor ritel Indonesia untuk
mengakses pasar ekuitas internasional. Amerika Serikat, sebagai pasar berkembang dengan likuiditas
yang dalam dan profil imbal hasil yang secara historis unggul, menghadirkan peluang bagi investor
ritel Indonesia untuk melakukan diversifikasi di luar pasar domestik. Kondisi ini membuka peluang
untuk mengkaji apakah diversifikasi lintas negara dapat meningkatkan kinerja portofolio. Penelitian
ini menerapkan kerangka Modern Portfolio Theory (MPT) untuk membentuk portofolio optimal yang
mengombinasikan tiga saham dengan kapitalisasi pasar terbesar dari IDX30 (BBCA, TLKM, dan
ASII) serta S&P 500 (NVDA, GOOGL, dan AMZN), bersama tiga ETF ekuitas Amerika Serikat
(SPY, QQQ, dan IWM), menggunakan data mingguan periode 2021–2025 yang telah dikonversi ke
dalam Rupiah Indonesia. Pada tujuan memaksimalkan return, portofolio mengombinasikan aset
Indonesia dan Amerika Serikat. Sementara itu, pada tujuan meminimalkan risiko dan memaksimalkan
rasio Sharpe, portofolio dialokasikan sepenuhnya ke ekuitas Amerika Serikat. Optimisasi portofolio
internasional paling terlihat pada portofolio dengan tujuan memaksimalkan return. Ketiga portofolio
yang dioptimalkan mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sebagaimana diukur
menggunakan Sharpe ratio. Bagi investor yang berfokus pada kinerja yang disesuaikan dengan risiko,
portofolio dengan tujuan memaksimalkan rasio Sharpe merupakan pilihan yang paling sesuai karena
memberikan tingkat return tertinggi untuk setiap tingkat risiko yang ditanggung.
Kata kunci: Optimisasi Portofolio Internasional, Modern Portfolio Theory, Diversifikasi Lintas
Negara, Pasar Ekuitas Indonesia, Pasar Ekuitas Amerika Serikat, Rasio Sharpe, IDX30, S&P 500,
ETF
Perpustakaan Digital ITB