Produksi karet nasional Indonesia menurun selama lima tahun terakhir, meningkatkan
tekanan terhadap efisiensi operasional perkebunan. Etefon 10% adalah stimulan yang
dioleskan pada permukaan batang pohon karet untuk meningkatkan hasil sadapan lateks,
menjadikannya input operasional krusial bagi kebun karet seperti Kebun Ngrangkah
Pawon (PTPN 1 Regional 5, Kediri, Jawa Timur). Namun, di kebun ini, persediaan etefon
dikelola tanpa titik pemesanan ulang dan bergantung pada pengisian ulang reaktif yang
bersifat ad hoc. Pada Januari 2025, saldo persediaan melonjak menjadi 2.853,76 liter
tanpa adanya titik pemesanan ulang, dan kelebihan persediaan rata-rata mencapai Rp43,6
juta yang tertahan dalam stok. Penelitian ini mengembangkan kebijakan persediaan
optimal untuk etefon. Permintaan pertama-tama dikarakterisasi menggunakan metode
klasifikasi berbasis frekuensi pemesanan dan variabilitas besaran, yang mengidentifikasi
pola permintaan sebagai erratic, sementara analisis kesenjangan mengonfirmasi rencana
anggaran tahunan perusahaan sebagai basis yang valid untuk mengestimasi total
permintaan tahunan. Kuantitas pesanan ekonomis optimal ditentukan sebesar 352,2 liter,
dengan safety stock dan titik pemesanan ulang pada service level 95%. Kebijakan ini
dievaluasi dalam kondisi stabil, lalu divalidasi melalui pendekatan simulasi dalam kondisi
permintaan bulanan yang bervariasi. Implementasi kebijakan diproyeksikan menurunkan
biaya persediaan tahunan dari Rp19,8 juta menjadi Rp4,7 juta, penghematan Rp15,2 juta
(76,4%), dengan simulasi mengonfirmasi penghematan hingga 80% pada kondisi
permintaan yang bervariasi. Kebijakan ini menggantikan pengadaan berbasis penilaian
subjektif dengan titik pemesanan ulang berbasis aturan yang dapat diintegrasikan ke
sistem pencatatan persediaan perusahaan yang sudah ada.
Kata Kunci: Manajemen Persediaan, Economic Order Quantity, Safety Stock, Reorder
Point, Simulasi Monte Carlo, Klasifikasi Permintaan
Perpustakaan Digital ITB