digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Produksi karet nasional Indonesia menurun selama lima tahun terakhir, meningkatkan tekanan terhadap efisiensi operasional perkebunan. Etefon 10% adalah stimulan yang dioleskan pada permukaan batang pohon karet untuk meningkatkan hasil sadapan lateks, menjadikannya input operasional krusial bagi kebun karet seperti Kebun Ngrangkah Pawon (PTPN 1 Regional 5, Kediri, Jawa Timur). Namun, di kebun ini, persediaan etefon dikelola tanpa titik pemesanan ulang dan bergantung pada pengisian ulang reaktif yang bersifat ad hoc. Pada Januari 2025, saldo persediaan melonjak menjadi 2.853,76 liter tanpa adanya titik pemesanan ulang, dan kelebihan persediaan rata-rata mencapai Rp43,6 juta yang tertahan dalam stok. Penelitian ini mengembangkan kebijakan persediaan optimal untuk etefon. Permintaan pertama-tama dikarakterisasi menggunakan metode klasifikasi berbasis frekuensi pemesanan dan variabilitas besaran, yang mengidentifikasi pola permintaan sebagai erratic, sementara analisis kesenjangan mengonfirmasi rencana anggaran tahunan perusahaan sebagai basis yang valid untuk mengestimasi total permintaan tahunan. Kuantitas pesanan ekonomis optimal ditentukan sebesar 352,2 liter, dengan safety stock dan titik pemesanan ulang pada service level 95%. Kebijakan ini dievaluasi dalam kondisi stabil, lalu divalidasi melalui pendekatan simulasi dalam kondisi permintaan bulanan yang bervariasi. Implementasi kebijakan diproyeksikan menurunkan biaya persediaan tahunan dari Rp19,8 juta menjadi Rp4,7 juta, penghematan Rp15,2 juta (76,4%), dengan simulasi mengonfirmasi penghematan hingga 80% pada kondisi permintaan yang bervariasi. Kebijakan ini menggantikan pengadaan berbasis penilaian subjektif dengan titik pemesanan ulang berbasis aturan yang dapat diintegrasikan ke sistem pencatatan persediaan perusahaan yang sudah ada. Kata Kunci: Manajemen Persediaan, Economic Order Quantity, Safety Stock, Reorder Point, Simulasi Monte Carlo, Klasifikasi Permintaan