Distribusi BBM memiliki kompleksitas operasional yang tinggi karena mobil tangki
umumnya berkonfigurasi multi kompartemen dan dapat mengangkut lebih dari satu
jenis produk dalam satu perjalanan, sementara kapasitas layanan sangat
ditentukan oleh konfigurasi fasilitas pada filling shed. Pada studi kasus Depot
Teluk Kabung (Sumatra Barat), depot menyalurkan BBM ke sekitar 165 SPBU dan
memiliki 17 loading bay, namun kondisi aktual menunjukkan setiap loading bay
hanya memiliki satu loading arm produk. Akibatnya, mobil tangki yang membawa
dua produk berbeda berpotensi harus melakukan pengisian dua kali pada loading
bay yang berbeda sehingga waktu layanan per shipment meningkat, sedangkan
untuk produk yang sama, keterbatasan jumlah arm menghambat pengisian paralel.
Literatur pada konteks fuel terminal masih dominan membahas VRP dan
scheduling, sementara struktur keputusan yang menggabungkan capacity design
fasilitas pemuatan dan assignment kendaraan dalam satu model relatif belum
banyak disentuh. Karena itu, posisi penelitian ini diklaim sebagai model
perencanaan secara simultan untuk mencari konfigurasi loading arm multi produk
dan penugasan mobil tangki pada loading bay, dengan rujukan struktur keputusan
dari dua studi warehouse yaitu (Young et al., 2023) dan (Derhami et al., 2018).
Secara konseptual, sel pada gudang dipandang sepadan dengan loading bay,
iii
sementara kapasitas fisik seperti pemilihan racking dan block stacking diposisikan
sepadan dengan jumlah dan konfigurasi loading arm per produk.
Penelitian ini mengembangkan model optimasi (MILP) yang secara simultan
menentukan jumlah loading arm per produk di setiap loading bay dan
mengalokasikan setiap mobil tangki ke tepat satu loading bay sehingga seluruh
kompartemen kendaraan diisi pada bay yang sama dengan batas jam operasi
harian. Untuk skala besar, model dilengkapi greedy heuristic sebagai metode
praktis ketika penyelesaian eksak menjadi berat secara komputasi
Hasil uji komputasi menunjukkan bahwa model optimasi yang dikembangkan
mampu merepresentasikan keputusan terintegrasi antara konfigurasi jumlah
loading arm multi produk pada setiap loading bay dan alokasi kendaraan multi
kompartemen ke bay layanan. Pada skala data kecil hingga menengah, solver
LINGO mampu mencapai solusi global optimal dengan GAP 0% dan waktu
komputasi singkat. Namun, ketika ukuran masalah meningkat, waktu komputasi
LINGO cenderung naik dan pada beberapa skenario mencapai batas waktu
maksimum sehingga solusi berada pada kategori layak. Di sisi lain, algoritma
heuristik greedy menghasilkan kualitas solusi yang kompetitif dengan rata-rata
GAP terhadap LINGO sekitar 4,9% serta waktu komputasi jauh lebih cepat,
sehingga sesuai untuk skala data besar. Secara operasional, konfigurasi fasilitas
multi produk dan penugasan kendaraan yang simultan menurunkan kebutuhan
kendaraan berpindah antar bay, meningkatkan paralelisme layanan, dan
memperbaiki efisiensi waktu operasi pengisian. Temuan ini mengindikasikan
bahwa pendekatan terintegrasi dapat mendukung pemenuhan permintaan SPBU
secara lebih andal. Pengembangan lanjutan mencakup integrasi time windows,
perencanaan multi periode, serta pemodelan gangguan operasional.
Perpustakaan Digital ITB