digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penyakit osteoarthritis (OA) merupakan penyakit degeneratif pada sendi yang sering dialami oleh lansia. Administrasi oral dari pengobatan simtomatik OA jangka panjang umumnya menghasilkan efek samping yang tidak diinginkan. Membran cangkang telur (MCT) mengandung beberapa protein seperti peptida kolagen tipe II, glukosamin, dan kondroitin yang dapat bertindak sebagai agen anti-inflamasi dan mendukung proses perbaikan sendi. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengembangkan sediaan topikal berisi MCT menggunakan carrier proniosomal gel serta penambahan agen peningkat penetrasi (propilen glikol, Transcutol, dan asam oleat). Karakterisasi proniosomal gel menunjukan range ukuran pronisomal yang terbentuk berkisar 200 –300 nm dengan nilai PDI kurang dari 0,5. Zeta potensial yang diperoleh dari proniosomal gel dengan penambahan propilen glikol, Transcutol, dan asam oleat berturut-turut yaitu -29,7 ± 0,216 mV, -23,8 ± 0,726 mV, dan -45,633 ± 0,125 mV. pH sediaan proniosomal gel berada pada rentang 5,9 –6,58 dengan viskositas 480 –15.840 cps. . Di antara seluruh formulasi yang diuji, gel proniosomal yang ditambahkan propilen glikol menghasilkan vesikel berbentuk sferis dan mencapai efisiensi penjerapan tertinggi sebesar 47,12%, diikuti oleh formulasi dengan Transcutol sebesar 41,35%, asam oleat sebesar 36,76%, serta formulasi tanpa peningkat penetrasi sebesar 23,47%. Pengujian penetrasi secara in vitro menggunakan Franz Diffusion Cell menunjukkan penetrasi terbaik diperoleh dari formula yang ditambahkan peningkat penetrasi asam oleat dengan total protein yang terpenetrasi (AUC 8 –24) sebesar 6.119,74 µg.Jam/cm 2 . Hasil studi in vivo pada model tikus OA yang diinduksi menggunakan monosodium iodoasetat menunjukan adanya penurunan pembengkakan kaki tikus pada hari ke -14 setelah pengobatan menggunakan proniosomal gel. Profil penurunan pembengkakan kaki tikus terbesar diperoleh pada kelompok proniosomal gel yang ditambahkan asam oleat. Hal ini sejalan dengan hasil histologi yang ditunjukan, dimana kelompok tikus yang diberikan proniosomal gel dengan penambahan asam oleat memiliki gambaran struktur sendi yang lebih baik.