digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Sarah Berliana Salsabila
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi energi angin yang tinggi, namun pemanfaatannya masih menghadapi tantangan berupa variabilitas kecepatan angin yang menyebabkan intermitensi pembangkitan sehingga memengaruhi keandalan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) stand-alone. Penelitian ini bertujuan menentukan konfigurasi optimal sistem PLTB stand-alone menggunakan Multi-Objective Genetic Algorithm (MOGA) serta merancang tata letak turbin pada lokasi potensial di Pulau Sabu dan Pulau Rote. Penelitian menggunakan data kecepatan angin ERA5 yang dikoreksi melalui statistical downscaling berbasis Global Wind Atlas (GWA) dan divalidasi menggunakan data observasi BMKG. Analisis spasial dilakukan untuk menentukan lokasi potensial, sedangkan optimasi sistem dilakukan dengan meminimalkan Net Present Cost (NPC) dan Loss of Power Supply Probability (LPSP). Tata letak turbin dirancang berdasarkan arah angin dominan dengan mempertimbangkan wake effect. Hasil penelitian menunjukkan bahwa downscaling meningkatkan akurasi data angin dengan Bias, RMSE, dan MAE masing-masing sebesar 0,315 m/s, 0,761 m/s, dan 0,608 m/s, serta koefisien korelasi 0,843 terhadap data observasi. Analisis menghasilkan empat lokasi potensial, dengan Rote 1 memiliki potensi energi tertinggi melalui kecepatan angin rata-rata 7,13 m/s, AEP sebesar 39,81 MWh/tahun, dan Capacity Factor 45,44%. Konfigurasi optimal diperoleh sebanyak 10 unit turbin dan 16 rak baterai dengan NPC Rp 11,70 miliar serta LPSP 0,32%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan mampu menghasilkan rancangan awal sistem PLTB stand-alone yang andal untuk wilayah kepulauan.