Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi energi angin yang tinggi,
namun pemanfaatannya masih menghadapi tantangan berupa variabilitas kecepatan
angin yang menyebabkan intermitensi pembangkitan sehingga memengaruhi
keandalan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) stand-alone. Penelitian
ini bertujuan menentukan konfigurasi optimal sistem PLTB stand-alone
menggunakan Multi-Objective Genetic Algorithm (MOGA) serta merancang tata
letak turbin pada lokasi potensial di Pulau Sabu dan Pulau Rote.
Penelitian menggunakan data kecepatan angin ERA5 yang dikoreksi melalui
statistical downscaling berbasis Global Wind Atlas (GWA) dan divalidasi
menggunakan data observasi BMKG. Analisis spasial dilakukan untuk menentukan
lokasi potensial, sedangkan optimasi sistem dilakukan dengan meminimalkan Net
Present Cost (NPC) dan Loss of Power Supply Probability (LPSP). Tata letak turbin
dirancang berdasarkan arah angin dominan dengan mempertimbangkan wake effect.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa downscaling meningkatkan akurasi data
angin dengan Bias, RMSE, dan MAE masing-masing sebesar 0,315 m/s, 0,761 m/s,
dan 0,608 m/s, serta koefisien korelasi 0,843 terhadap data observasi. Analisis
menghasilkan empat lokasi potensial, dengan Rote 1 memiliki potensi energi
tertinggi melalui kecepatan angin rata-rata 7,13 m/s, AEP sebesar 39,81
MWh/tahun, dan Capacity Factor 45,44%. Konfigurasi optimal diperoleh sebanyak
10 unit turbin dan 16 rak baterai dengan NPC Rp 11,70 miliar serta LPSP 0,32%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan mampu
menghasilkan rancangan awal sistem PLTB stand-alone yang andal untuk wilayah
kepulauan.
Perpustakaan Digital ITB