BAB 1 - I Gede Rangga Raditya Wijaya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 - I Gede Rangga Raditya Wijaya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - I Gede Rangga Raditya Wijaya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - I Gede Rangga Raditya Wijaya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - I Gede Rangga Raditya Wijaya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - I Gede Rangga Raditya Wijaya
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Peningkatan penggunaan kendaraan listrik mendorong kebutuhan baterai ion-
litium, termasuk baterai litium besi fosfat (LFP), sehingga jumlah baterai habis
pakai juga meningkat. Baterai LFP bekas masih mengandung Li, Fe, dan grafit yang
dapat dimanfaatkan kembali, tetapi black mass hasil pretreatment baterai habis
pakai, yang merupakan campuran material aktif elektrodanya, masih mengandung
Al dan Cu yang dapat ikut terlarut selama pelindian. Penelitian ini mengevaluasi
pelindian sekuensial dua tahap menggunakan H2SO4 berkonsentrasi rendah untuk
meningkatkan ekstraksi Li dan Fe, mempelajari perilaku pelarutan Al dan Cu, serta
memodelkan pengaruh kondisi operasi menggunakan response surface
methodology (RSM).
Baterai LFP awalnya melalui tahap discharging, pirolisis, pencacahan, dan
pengayakan untuk menghasilkan black mass. Percobaan pendahuluan pelindian
dilakukan untuk menentukan kecepatan pengadukan pada rentang 200–800 rpm.
Pelindian tahap pertama menggunakan 0,5 M H2SO4 pada rasio padat-cair 200 g/L
dengan variasi temperatur 30, 50, dan 70 °C dan waktu 60, 90, dan 120 menit
berdasarkan face-centered central composite design (FCCD). Residu pada kondisi
optimum tahap pertama kemudian dilindi pada tahap kedua menggunakan Box–
Behnken design (BBD) dengan variasi H2SO4 0,25, 0,50, dan 0,75 M, temperatur
30, 50, dan 70 °C, dan waktu 60, 90, dan 120 menit. Li, Fe, Al, dan Cu dianalisis
menggunakan atomic absorption spectroscopy (AAS), sedangkan residu akhir
dikarakterisasi menggunakan X-ray diffraction (XRD) dan instrumen analisis
karbon LECO.
Kecepatan pengadukan 600 rpm dipilih karena peningkatan hingga 800 rpm tidak
memberikan peningkatan ekstraksi lebih lanjut. Pada tahap pertama, waktu
merupakan faktor paling dominan terhadap ekstraksi Li dan Fe. Kondisi optimum
diperoleh dalam 0,5 M H2SO4 pada 60,52 °C selama 120 menit dengan ekstraksi
aktual 73,91% Li dan 46,19% Fe. Pada tahap kedua, konsentrasi H2SO4 menjadi
faktor dominan dengan kontribusi 70,08% terhadap Li dan 98,36% terhadap Fe.
Peningkatan konsentrasi asam tidak hanya meningkatkan pelarutan Li dan Fe, tetapi
juga ko-pelarutan Al dan Cu. Kondisi optimum diperoleh dengan 0,75 M H2SO4
pada 58,28 °C, selama 60 menit, dengan ekstraksi aktual 94,80% Li dan 88,73%
Fe. Berdasarkan hasil aktual kedua tahap, ekstraksi kumulatif mencapai 98,64% Li
dan 93,93% Fe. Karakterisasi XRD residu akhir mengidentifikasi grafit, FePO4, dan
AlPO4, yang menunjukkan bahwa grafit masih terdapat dalam residu setelah
pelindian dua tahap.
Perpustakaan Digital ITB