Divisi Detail Part Manufacturing di PT Dirgantara Indonesia dibagi menjadi beberapa bagian, di antaranya adalah DM6000. DM6000 bertanggung jawab untuk melakukan dan merancanakan kegiatan maintenance. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan pakai dari mesin supaya hasil kinerja dari DM6000 dapat mencapai KPI availability perusahaan. Saat ini, beberapa mesin belum mencapai KPI availability yang ditentukan perusahaan, yakni 90%. Berdasarkan diskusi dengan salah satu supervisor pada bagian DM6100, yakni bagian Maintenance Engineering & Development, terdapat 3 (tiga) faktor utama yang menyebabkan hal tersebut terjadi, yakni umur mesin yang sudah tinggi, dana spare part yang kurang, dan jumlah pekerja tetap direct maintenance yang kurang.
Oleh karena itu, penelitian ini fokus terhadap optimasi jumlah pekerja tetap direct maintenance untuk 3 (tiga) tahun ke depan. Optimasi dilakukan dengan menggunakan dua model. Model pertama hanya fokus pada alokasi jam kerja reguler dengan menggunakan variabel keputusan yang meliputi jumkah pekerja reguler, jam kerja reguler, jumlah jam kerja lembur oleh pekerja reguler, dan jumlah backlog, Model kedua fokus terhadap alokasi pekerja magang, kontrak (pro-hire), dan juga pekerja tetap. Hasil optimasi model pertama menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja optimal meningkat menjadi 10 pekerja pada periode kedua dan 14 pekerja pada periode ketiga dengan menggunakan tenaga kerja reguler dan jam kerja lembur untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan tanpa menggunakan backlog sama sekali. Model ini menghasilkan total biaya sebesar Rp3.115.080.100 yang memberikan penghematan sebesar 56,29% dibandingkan kondisi status quo. Model kedua menghasilkan kebutuhan tenaga kerja optimal sebesar 9 pada periode pertama, 11 pekerja pada periode kedua, dan 15 pekerja pada periode ketiga, dengan komposisi didominasi oleh tenaga kerja reguler dan magang tanpa menggunakan tenaga kerja kontrak (pro-hire). Model ini menghasilkan total biaya sebesar Rp2.984.808.100 dan memberikan penghematan sebesar 38,03% dibandingkan kondisi status quo.
Perpustakaan Digital ITB